Pemenang IYCE dan CEC 2010

(Dari kiri ke kanan) Pemenang IYCE Interactive 2010 Muhamad Lukman (Bandung) dan Pemenang IYCE Screen 2010 Perdana Kartawiyudha (Jakarta)

Malam penganugerahan pemenang International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Awards 2010 dan Community Entrepreneurs Challenge (CEC) Awards 2010, telah berlangsung pada tanggal 23 September 2010 di Teraskota Entertainment Center, Serpong

Satu jam sebelum acara dimulai, diadakan konferensi pers mengenai IYCE dan CEC 2010 dengan pembicara Keith Davies (Country Director British Council Indonesia), John Galvin (Guinness Indonesia), perwakilan Dewan Juri CEC Maria R. Nindita Radyati (Direktur Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector – CECT), serta perwakilan Dewan Juri IYCE Hari Sungkari (Sekretaris Jenderal Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia – MIKTI).

Mengawali konferensi pers IYCE & CEC 2010 di Ruang Lengkong Hotel Santika BSD Serpong, Keith Davies mengucapkan selamat kepada seluruh pemenang ICYE & CEC 2010 seraya menyerukan kepada masyarakat Indonesia untuk menyambut wirausahawan gelombang baru Indonesia (New Wave Entrepreneurs) yang membangun bisnis berbasis komunitas dan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Mereka adalah wirausahawan muda, inovatif, idealis dan berani mengambil resiko. Representasi terbaik mereka saat ini adalah para pemenang Community Entrepreneurs Challenge (CEC) Awards dan International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Awards 2010.

“Melalui program IYCE & CEC ini, British Council Indonesia membantu menciptakan jejaring yang lebih luas, kesempatan pertukaran ilmu pengetahuan dengan para ahli dari UK, dan membuka pasar global,” jelas Keith Davies.

Selanjutnya Keith Davies mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu pelaksanaan IYCE dan CEC Awards 2010 seperti pemerintah, institusi, organisasi, media, asosiasi, komunitas insan kreatif Indonesia, serta Arthur Guinness Fund (Guinness Indonesia) yang menjadi mitra British Council dalam program Community Entrepreneurs Challenge (CEC).

(Depan dari kiri ke kanan) John Galvin (Guinness Indonesia), Keith Davies (Country Director British Council Indonesia), Djoni Tjung (Guinness Indonesia), Maria R. Nindita Radyati (Juri CEC), Hari Sungkari (Juri IYCE)(Belakang) Para Finalis Community Entrepreneurs Challenge (CEC) Award 2010

Berikutnya John Galvin selaku perwakilan Guinness Indonesia menjelaskan mengenai Arthur Guinness Fund yang bertujuan mempertahankan nilai-nilai yang dianut oleh Arthur Guinness semasa hidupnya dengan memberdayakan individu-individu dengan keterampilan dan kesempatan untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik. Arthur Guinness Fund mendukung berbagai kegiatan sosial di seluruh dunia, termasuk program-program usaha sosial di Irlandia, Amerika Serikat dan Indonesia.

Khusus untuk Indonesia, Arthur Guinness Fund bekerjasama dengan British Council Indonesia mengembangkan suatu sistem penyokong berkelanjutan untuk usaha-usaha sosial berbasis komunitas. Di tahun 2009 Arthur Guinness Fund memberikan dana sebesar 230.000 Poundsterling kepada Guinness Indonesia dan British Council Indonesia untuk memfasilitasi program Community Entrepreneurs Challenge (CEC) yang dijiwai oleh semangat dari Arthur Guiness (visioner sekaligus pendiri Guinness), “From One to Many – Creating Opportunities for Communities”. Dana tersebut merupakan sebuah kegiatan CSR terbesar dari Arthur Guinness Fund untuk wilayah Asia Pasifik.

Lebih lanjut John Galvin menjelaskan bahwa Arthur Guinness melalui Arthur Guinness Fund melanjutkan warisannya yang luar biasa dengan mendukung Community Entrepreneurs Challenge (CEC) dengan memberikan pelatihan dan total bantuan dana sosial sebesar 600 Juta Rupiah kepada pemenang CEC (3 pemenang di kategori Pemula dan 3 pemenang di kategori Madya, masing-masing mendapat dana bantuan investasi sosial sampai Rp. 100 Juta) untuk membangun dan mengembangkan bisnis berbasis komunitas.

“Program CEC ditujukan untuk mengembangkan dan memberikan dorongan bagi para wirausahawan sosial terkemuka dengan keterampilan dan dukungan yang dibutuhkan untuk memberikan perubahan yang terukur dan transformasional bagi masyarakat,” ungkap John Galvin.

Pembicara selanjutnya Maria R. Nindita Radyati selaku perwakilan Dewan Juri CEC 2010 menjelaskan bahwa program CEC lebih menekankan penilaiannya pada gagasan atau kegiatan kewirausahawan sosial yang tujuan utamanya adalah pemecahan masalah sosial, melibatkan anggota komunitas dalam pengelolaan kegiatannya, menawarkan solusi kongkrit, layak secara teknis dan keuangan. “Faktor-faktor ini sangat penting karena terangkatnya kesejahteraan bersama pada gilirannya akan memperkuat bisnis wirausahawan sosial. Selain aspek bisnis, tim Juri CEC juga menilai aspek sosial dan komunitas dari bisnis tersebut,” jelas Maria R. Nindita Radyati.

Lebih lanjut Maria menjelaskan, dari keseluruhan 600 proposal yang masuk, Tim Juri CEC memilih 100 peserta yang berhasil lolos pada seleksi tahap I, kemudian memilh 45 finalis pada seleksi tahap II, selanjutnya memilih 10 finalis yang terdiri dari 5 finalis kategori Pemula (di bawah tiga tahun) dan 5 finalis kategori Madya (di atas tiga tahun) pada seleksi tahap III. Pada tahap akhir dipilih masing-masing tiga pemenang untuk kategori Pemula dan kategori Madya yang berhak menerima dana bantuan sosial masing-masing sampai Rp.100 Juta untuk pengembangan lebih lanjut kewirausahawan sosial mereka.

Pembicara terakhir, Hari Sungkari sebagai perwakilan Juri IYCE menyatakan bahwa program IYCE sebenarnya mempunyai kesamaan dengan CEC, namun dibatasi khusus untuk wirausahawan dengan usia maksimal 35 tahun. “Dari masing-masing 10 finalis untuk kategori interactive dan screen(film), tim juri IYCE harus memilih hanya seorang pemenang saja di setiap kategori. Hal ini tentu bukan hal yang mudah, namun dengan berbagai pertimbangan dan penilaian yang ketat, tim juri akhirnya menentukan pemenang IYCE 2010 yang berhak mewakili Indonesia di ajang IYCE Internasional di London, Inggris. Tentunya dengan harapan pemenang IYCE 2010 ini dapat berkompetisi sebaik-baiknya di ajang IYCE Internasional,” demikian Hari Sungkari menjelaskan.

Malam Penganugerahan Pemenang IYCE & CEC 2010

Acara malam penganugerahan pemenang IYCE & CEC 2010 berlangsung pada tanggal 23 September 2010 di atrium Teraskota Entertainment Center, Serpong. Hujan cukup deras yang mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya sejak siang, tidak mengurungkan niat para hadirin, undangan, serta insan kreatif untuk menghadiri puncak acara IYCE dan CEC Awards 2010 ini, walau mereka sempat terjebak kemacetan yang cukup lama di perjalanan.

Mengenai kemacetan ini sempat dilontarkan secara spontan oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia HE Martin Hatfull saat menyampaikan sambutannya, “Sepertinya Indonesia memerlukan wirausahawan kreatif untuk mengatasi masalah kemacetan, ” ungkapnya yang langsung disambut tawa para hadirin.

Selain Duta Besar Inggris untuk Indonesia beserta staf, pejabat dan staf British Council Indonesia serta Guinness Indonesia, Dewan Juri IYCE & CEC, serta seluruh finalis IYCE dan CEC 2010, acara ini juga dihadiri undangan dari institusi, organisasi, asosiasi, komunitas, media dan insan kreatif Indonesia serta pengunjung Teraskota Entertainment Center. NihDia.com pun sempat menemui dan berbincang dengan Johansen Samsoedin pemenang IYCE Design Award 2009 yang baru terlihat di pertengahan acara karena terjebak kemacetan di perjalanan.

Rangkaian acara pada malam penganugerahan IYCE dan CEC Award 2010 diawali dengan penjelasan singkat mengenai industri konten / game interaktif yang dibawakan oleh Ian Livingstone Bapak industri konten / game interaktif asal Inggris yang dipandu oleh Hari Sungkari (Sekjen Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi – MIKTI).

Ian Livingstone, Bapak industri konten dan game interaktif asal Inggris dalam perbincangan singkat mengenai industri game yang dipandu oleh Hari Sungkari Sekjen MIKTI

Kehadiran Ian Livingstone yang saat ini menjabat presiden Eidos Interactive, perusahaan pengembang game komputer terkemuka asal Inggris yang sukses dengan karya-karya seperti Tomb Raider, Hitman, Champhionship Manager, dll, adalah atas undangan British Council Indonesia dalam rangka pengumuman pemenang IYCE dan CEC 2010. Ian Livingstone secara khusus menyerahkan penghargaan kepada pemenang IYCE 2010 untuk kategori Interactive.

Hadirnya Ian Livingstone pada acara tersebut banyak ditunggu insan kreatif di Indonesia. Ian pun dengan ramah melayani berbagai pertanyaan dan memenuhi permintaan foto bersama dari penggemarnya. Diharapkan kehadiran Ian Livingstone di Indonesia memberikan inspirasi dan banyak manfaat bagi perkembangan industri kreatif khususnya game / permainan interaktif dan kreasi konten digital di tanah air.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pengumuman dan penganugerahan pemenang IYCE dan CEC Award 2010. Keseluruhan acara berlangsung dengan meriah dan penuh dengan nuansa kreatif. Seluruh finalis dan pemenang IYCE maupun CEC terlihat sangat erat dan saling mendukung satu sama lain. Sikap kebersamaan sesama finalis ini patut diajungi jempol, karena sesungguhnya mereka semua adalah pemenang dan bagian dari wirausahawan gelombang baru yang siap memimpin dan memberdayakan komunitasnya serta memperbaiki kondisi lingkungan hidup di mana mereka berada.

Salut kepada British Council dan Arthur Guinness Fund dengan program IYCE dan CEC yang telah memberi inspirasi dan karya nyata bagi perkembangan wirausahawan sosial Indonesia. Selamat dan sukses untuk para pemenang IYCE dan CEC Award 2010.

Pemenang IYCE & CEC Award 2010

Wirausahawan sosial adalah wirausahawan gelombang baru Indonesia. Mereka membangun bisnis berbasis komunitas dan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Representasi terbaik mereka saat ini adalah para pemenang Community Entrepreneurs Challenge (CEC) Awards dan International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Awards 2010.

Pada CEC yang merupakan program kerja sama British Council dan Arthur Guinness Fund, yang terpilih sebagai tiga terbaik Wirausahawan Sosial Pemula adalah Fruitanol (Yogyakarta), Aliansi Pro-Agribisnis Pakpak Barat (Medan), dan Wangsa Jelita (Bandung), sementara tiga terbaik kategori Madya adalah Komunitas Hong (Bandung), Outreach International Bioenergy (Jakarta) dan Indonesian Pluralism Institute (Jakarta). Pemenang CEC akan mendapatkan dana investasi sosial sampai Rp 100 juta.

Pada ajang IYCE, terpilih sebagai juara kategori Interactive adalah Muhamad Lukman (Bandung), sementara kategori Screen adalah Perdana Kartawiyudha (Jakarta). Mereka akan mewakili Indonesia dalam IYCE 2010 di London, Inggris.

Pemenang CEC Award 2010 Kategori Pemula (di bawah tiga tahun)

Tiga Pemenang CEC Award 2010 Kategori Pemula (memegang tropi dari kiri ke kanan) Sabam Malau (Aliansi Pro-Agribisnis Pakpak Barat), Dita Adi Saputra (CV Fruitanol), Nadya Fadila Saib (Wangsa Jelita) didampingi (dari kiri ke kanan) John Galvin (Guinness Indonesia), HE Martin Hatfull (Duta Besar Inggris untuk Indonesia), Keith Davies (Country Director British Council Indonesia), Maria R. Nindita Radyati (Juri / Direktur Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector – CECT).Foto Copyright British Council Indonesia.

  • Frutanol didirikan oleh Dita Adi Saputra dan kawan-kawannya. Mereka menemukan cara memanfaatkan buah salak untuk menjadi energi bioetanol dan mengolah limbah buah menjadi pupuk organik. Fruitanol direncanakan menjadi perusahaan yang dijalankan oleh komunitas petani sehingga mereka mengenal cara pengolahan limbah salak yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan.
  • Aliansi dibentuk Sabam Malau untuk mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang mahal dan tak ramah lingkungan. Bersama-sama, mereka membuat pupuk ramah lingkungan dari kotoran kelinci. Untuk mendukung hasil temuan mereka, Aliansi Pro-Agribisnis ingin menciptakan peternakan kelinci di Pakpak Barat, yang jika sukses dapat menjadi model baru untuk komunitas pertanian yang berkelanjutan.
  • Wangsa Jelita menggagas perdagangan adil untuk petani bunga, dengan cara memproduksi dan menjual sabun alami sekaligus memberikan bimbingan untuk akses pasar.

Pemenang CEC Award 2010 Kategori Madya (di atas tiga tahun)

Tiga Pemenang CEC 2010 Kategori Madya (mengangkat tropi dari kiri ke kanan) Zaini Alif (komunitas Hong), Elias Tana Moning (Outreach International Bioenergy), William Kwan (Indonesia Pluralism Institue) didampingi (dari kiri ke kanan) John Galvin (Guinness Indonesia), HE Martin Hatfull (Duta Besar Inggris untuk Indonesia), Nancy Magried (PT Pixel Indonesia), Rusdi Idrus (IPPM), Djoni Tjung (Guinness Indonesia).Foto Copyright British Council Indonesia.

  • Komunitas Hong didirikan oleh Zaini Alif yang memiliki minat yang sangat mendalam terhadap kesenian dan adat Sunda. Zaini meneliti dan menciptakan kembali mainan adat Sunda agar aman bagi anak-anak sekaligus dapat diproduksi secara massal.
  • Outreach International Bioenergy dibangun oleh Elias Tana Moning yang telah lama punya pengalaman dengan minyak jarak. Outreach menerapkan sistem bagi hasil dengan petani Flores. Mereka juga bekerja sama dengan paroki-paroki setempat untuk menyukseskan program.
  • Indonesian Pluralism Institute (IPI) didirikan oleh William Kwan. Selain meneliti batik dan memberdayakan perajinnya di Lasem, Jawa Tengah, IPI juga mengampanyekan nilai-nilai kemajemukan melalui batik. IPI percaya bahwa melalui batik, orang bisa belajar warisan budaya dunia sekaligus menghargai keberagaman.

Menurut dewan juri CEC yang terdiri atas Romy Cahyadi, Ipung Nimpuno, Keith Davies, Maria R. Nindita Radyati, dan Ambrosius Ruwindrijarto, semua pemenang CEC menunjukkan potensi yang kuat untuk mengembangkan kewirausahaan sosial berbasis komunitas mereka. “Mereka tak hanya memecahkan masalah sosial dan peduli terhadap lingkungan hidup, mereka juga punya passion yang sangat besar,” kata Ipung Nimpuno dari Arthur Guiness Fund, penyelenggara bersama ajang CEC. Sementara itu, Maria mencatat bahwa konsep dan ide sosial setiap pemenang menggembirakan. Hanya saja, aspek yang perlu dibenahi adalah persoalan teknis berkenaan dengan pengaturan keuangan dan governance plan.

Pemenang IYCE Award 2010 Kategori Interactive

(Depan dari kiri ke kanan) Hari Sungkari (Juri / Sekjen MIKTI), Muhamad Lukman (Pemenang IYCE 2010 Kategori Interactive), Ian Livingstone, Widi Nugroho (Juri / Head of Digital Business PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk), Rachman Ibrahim (Juri / Pemenang IYCE Interactive 2008)

Muhamad Lukman lahir pada 1978 di Jakarta. Ia adalah Head of Design dan pendiri Pixel People Project (www.batikfractal.com), sebuah perusahaan yang membaktikan dirinya untuk riset desain. Proyek terbarunya adalah Batik Fractal, riset yang memadukan matematika, seni tradisonal batik, dan teknologi. Hasilnya adalah jBatik, peranti lunak yang menghasilkan pola batik dari rumus matematika.

Lukman yang sudah tiga tahun menjalankan usahanya dinilai dewan juri yang terdiri atas Rachman Ibrahim, Hari Sungkari, dan Widi Nugroho sebagai finalis yang paling lengkap dalam menyeimbangkan sisi kewirausahaan dan sosial. Lukman juga dinilai mempunyai passion yang besar di bidangnya. Salah satu yang mengesankan juri adalah upayanya memperkenalkan dunia dijital kepada para perajin batik yang umumnya ibu rumah tangga. Pola batik lazimnya diturunkan dari orang tua ke anaknya. Hanya saja, cara ini membuat pola lazimnya kurang berkembang. Langkah Lukman adalah terobosan karena mengembangkan sekaligus melestarikan pola-pola batik. “Selain itu, kesenjangan dijital berkurang,” kata Hari Sungkari.

Secara umum, Juri IYCE Interactive menyebut munculnya kecenderungan yang menggembirakan dari peserta kompetisi, utamanya para finalis, yaitu besarnya semangat mengangkat warisan budaya lokal. Mereka juga dinilai menguasai pasar dan berani mengambil tindakan. “Potensi mereka besar semua,” kata Rachman Ibrahim, yang pernah menjadi juara IYCE Interactive 2008.

Pemenang IYCE Award 2010 Kategori Screen

(Depan dari kiri ke kanan) Sakti Parantean (Juri / Pemenang IYCE Screen 2008), Perdana Kartawiyudha (Pemenang IYCE 2010 Kategori Screen), Keith Davies (Country Director British Council Indonesia), Riza Primadi (Juri), Nino Suyudi (Juri)

Perdana Kartawiyudha lahir di Mojokerto pada 1985. Ia adalah pendiri Serunya Scripwriting (www.skenario.org), lembaga pertama yang mengkhususkan diri sebagai pusat pelatihan dan pengembangan penulisan naskah. Sejak berdiri pada 2007, Serunya sudah mencetak penulis-penulis baru untuk film panjang, serial televisi, dokumenter, dan sitkom. Pengajar di tempat ini adalah para penulis skenario berpengalaman. Perdana juga pernah mendatangkan pengajar dari Prancis. Dengan cara ini, peserta pelatihan di Serunya bisa belajar banyak gaya penulisan.

Juri IYCE Screen yang terdiri atas Riza Primadi, Sakti Parantean, dan Nino Sujudi menyebut kemenangan Perdana ditentukan karena alumni IKJ ini meletakkan pondasi penting dalam screen industry. “Semangat edukasi lembaganya juga membuatnya lebih unggul,” kata Riza.

Sakti, juara IYCE Screen 2008, menyebut kompetisi tahun ini sangat ketat. Para finalis dinilainya memiliki keterikatan yang kuat dengan komunitas. Ia melihat hal ini sangat menggembirakan karena ketika ia membangun Hybrid beberapa tahun yang lalu ia merasa sendiri. “Saya kepengin segera bekerjasama dengan mereka,” kata Sakti.

Didi Sutadi

Founder NihDia.com. Karir di bidang IT diawali sebagai programmer di sebuah perusahaan konsultan IT yang menggarap beberapa proyek bank pemerintah. Kemudian berlanjut sebagai senior IT di beberapa perusahaan manufacturing di Jakarta. Hobi dan ketertarikannya di bidang komputer dan programming, membuatnya tetap berkarya dengan mengembangkan beberapa permainan game komputer. Pada tahun 2002 & 2003 terpilih mewakili Indonesia pada ajang Asia Pacific ICT Awards untuk kategori “Entertainment Application”. Sejak tahun 2007 merintis usaha di bidang IT & Multimedia, Web Development dan Graphic Communication.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

One thought on “Pemenang IYCE dan CEC 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*