S U D U T MENANGIS

By on January 1, 2018

Nasib dan perjalanan hidup membuat Saya menjadi anak tunggal Ibu. Di rumah, Saya tumbuh di tengah orang-orang dewasa yang kadang tidak mengerti bahwa seorang anakpun bisa punya rasa sedih, takut, kecewa, bahkan kesepian. Pada masa-masa itu, belasan pohon besar yang tumbuh di kebun seluas 4300 meter persegilah yang menjadi “sudut menangis” pertama Saya. Diganggu teman, dimarahi Ibu, atau saat merindukan Ayah, Saya selalu lari ke balik salah satu pohon besar itu dan menghabiskan tangis dalam diam di sana…

Beranjak remaja, pada masa SMA, Saya punya sudut menangis yang lain. Masa itu, ketika orang-orang serumah sudah lelap tertidur, Saya menghabiskan tangis di sudut bawah jendela, antara dinding dan kepala tempat tidur. Sudut kecil yang cuma cukup untuk Saya duduk menekuk lutut, menangis tanpa suara, meratapi lembar demi lembar kertas fotocopy yang aslinya berwarna kuning.

Ketika mulai kuliah, Saya kembali menemukan sudut menangis yang lain. Meja paling pojok di perpustakaan kampus adalah sudut favorit Saya untuk menangis. Tak pernah mengganggu pengunjung lain, karena tak pernah ada isak yang keluar. Hanya tetesan air yang setetes demi setetes membasahi buku yang Saya baca…Di masa SMA dan masa kuliah itu, juga ada sudut untuk menangis yang lain. Hutan, gunung, dan kadang laut dan desa-desa terpencil lah yang menjadi saksi tangis penyesalan yang rasanya tak kunjung ada akhirnya.

Kurun waktu setelah bekerja, menikah, dan mempunyai anak, Saya tak lagi punya sudut menangis. Entah karena merasa sudah cukup kuat menghadapi hidup, atau karena merasa sudah terlalu tua, dan tak lagi pantas, atau karena merasa tak lagi membutuhkannya…

Tetapi…ketika hari ini Saya merasa begitu terluka dan sakit, seperti binatang yang terluka dan sekarat, Saya begitu ingin rasanya menggali lubang, dan kembali menemukan sudut menangis Saya…

About Nila Kusumawardhani

Co-Founder / Editor @ NihDia.com. Owner @ CIRI COMMUNICATION.

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply