Tutur Mahaparana

P u t r i K e c i l k u

Seorang gadis kecil kelas 2 SD berjalan menembus hujan yang amat deras sore tadi. Tas ransel bergambar strawberry shortcake di punggungnya kelihatan agak terlalu besar, sementara payung merahnya yang kebesaran nyaris menutupi seluruh tubuhnya sampai punggung. Sepatu sandal yang dipakainya pasti sudah basah sedari tadi, karena berjalan menyusuri jalan yang tergenang air semata kaki.

Sendirian tanpa ada pejalan kaki lain, dalam deras hujan dan cuaca yang agak gelap, dia menyusuri gang demi gang dan jalan kampung. Langkahnya pasti, menuju TPA yang terletak 3 RT dari tempatnya tinggal. Sesekali gadis kecil itu menoleh, melambaikan tangan pada ibunya yang terus menatapnya dari depan gerbang rumah. Mulut mungilnya berteriak mengatasi suara hujan…bye bye mama, I love you ! Meneruskan langkah, menoleh lagi, dan berteriak lagi bye bye mama, I love you, yang dibalas ibunya dengan tawa dan lambaian tangan “kiss bye”. Begitu terus…sampai gadis mungil itu menghilang di kelokan jalan.

Sang ibu tertawa dan melambaikan tangan membalas teriakan anaknya dengan riang. Tetapi sesungguhnya airmatanya berlinang di tengah hujan. Siapalah yang tega melihat gadis kecilnya berjalan sendirian menembus deras dan dinginnya hujan ? Tapi Ia menguatkan hati sebisa-bisanya, melatih gadis kecil itu agar berani, mandiri, dan tetap semangat pergi mengaji dalam dinginnya hujan sekalipun. Ia ingin gadisnya tidak hanya cerdas dan pandai di sekolah, tapi juga punya bekal agama yang cukup untuk bekal hidupnya kelak. Tak akan selamanya dia dapat menjaga dan melindungi putri kecilnya itu…

Sang ibu menghela nafas, menepis sekejab lamunannya, dan mengunci pintu gerbang rumah. Dengan langkah yang semakin lama semakin cepat, bahkan setengah berlari, disusurinya jalan yang tadi dilalui putri mungilnya. Cukup cepat, hingga di kejauhan dilihatnya sosok gadis kecil berpayung merah. Diikutinya dari jauh langkah-langkah kecil itu, sampai dipastikannya bahwa putri kecil kesayangannya sudah selamat sampai ke TPA-nya, tanpa pernah tahu bahwa ibunya selalu setia menemani langkah kakinya, mengikutinya dari belakang dengan segenap cinta untuknya…

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

Copyright © 2019 NihDia.com - Jendela Industri Kreatif Indonesia. Theme by MVP Themes, powered by Wordpress.

To Top