Tutur Mahaparana

P a k M a r t o

Di depan Gedung BNI 46 Jakarta Kota, ada Pak Marto, seorang penjual minuman botol kaki lima. Yang menonjol darinya adalah sosok kecil dengan kulit amat legam. Perkenalan dengannya terjadi lebih kurang 18 tahun yang lalu. Ketika itu, Saya dan seseorang sering sekali menghabiskan waktu dengan menaiki Patas AC 15 jurusan Depok – Jakarta Kota. Kadang 1 rit, 2 rit, bahkan lebih Kami naiki bis itu. Bolak balik- bolak balik seolah waktu tak lagi punya arti… Perhentian terakhir bis itu di Jakarta Kota adalah persis di tempat Pak Marto berdagang. Maka, di situlah Kami mengenalnya, karena Kami selalu mampir duduk minum di tempatnya.

“Pasangan aneh” canda Pak Marto mengomentari hobby dan penampilan Kami suatu ketika… Betapa tidak, karena yang laki-laki bertubuh tinggi, berkulit putih, berambut panjang amat tebal dan hitam, serta nyaris selalu di ekor kuda. Sementara yang perempuan justru bertubuh kecil, ceking, berambut tipis dan super pendek, dengan tas ransel yang selalu menempel di punggung, dan bersepatu basket model boot merk NxKE AxR putih.

Tahun demi tahun berlalu, setelah lulus kuliah, bekerja, dan bahkan menikah, jika ada keperluan ke daerah Jakarta Kota, Saya selalu menyempatkan diri “menjenguk” Pak Marto, sekedar ingin melihat dan menyapanya. Waktu terus berjalan, dan laki-laki gondrong berwajah oriental itu sekarang mulai dikenal sebagai wartawan senior di sebuah harian terkenal di ibukota. Dan Kami pun tak pernah lagi bertemu. Tapi dari Pak Marto lah, Kami saling mendengar kabar masing-masing…Karena ternyata Dia pun sesekali menyempatkan diri menengok Pak Marto.

Bus Patas AC 15 sudah lama sekali tak lagi ada, tapi Pak Marto selalu setia, tetap berdagang di tempat itu…Dan segala sesuatu pasti ada akhirnya… Pertemuan Saya kemarin dengan Pak Marto, mungkin adalah pertemuan terakhir Saya dengannya. Ketika kemarin Saya kembali menyambanginya, Pak Marto pamit, bulan ini adalah bulan terakhir Dia berdagang di tempat itu. Setelah hampir 30 tahun berjualan di tempat itu, akhirnya Pak Marto memutuskan untuk berhenti berdagang, pensiun, dan pulang kampung…

Setelah saling menukar nomor telepon dan alamat, dan memberikan nomor telepon dan alamat teman laki-laki Saya dulu itu, Saya pun pulang, dengan hati sedih dan kurang bersemangat, karena kehilangan lagi seorang “kawan”, seseorang yang meskipun jarang bertemu, tapi selalu ada dalam ingatan… Pak Marto mungkin hanya seorang tukang minuman, laki-laki renta yang tak jelas asal usulnya. Tapi dalam hati kecil Saya, Pak Marto lah salah satu kawan setia…

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

Copyright © 2019 NihDia.com - Jendela Industri Kreatif Indonesia. Theme by MVP Themes, powered by Wordpress.

To Top