P a k M a m a n

By on January 1, 2018

Bosan menunggu KRL ekonomi tujuan Jakarta yang tak kunjung datang sore tadi, di stasiun Bojong Gede saya menghampiri seorang pedagang asongan yang menjual kripik singkong di peron stasiun. Memulai percakapan dengan menanyakan harga jualannya, Pak Maman, lelaki ringkih 53 tahun itu bercerita : Setiap hari dia membawa 250 bungkus kripik yang diambilnya dari tetangga. Bungkus besar keuntungannya 1000 rupiah, bungkus kecil 200 rupiah. Setiap hari dia mulai berjualan jam 8 pagi, sampai larut malam sampai kereta terakhir menuju Bogor, jam 22.30 malam.

Dengan waktu berjualan sepanjang itu, Pak Maman mampu menjual setara dengan 200 bungkus kecil, atau dengan keuntungan maksimal 40 ribu rupiah per hari. Jumlah yang sangat minim untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, karena Pak Maman masih menanggung hidup 5 anak dan satu orang istri. Dua anak tertuanya sudah menikah…

Wajahnya tampak amat sangat masgul, ketika ditanyakan soal sekolah anak-anaknya, karena nyaris semuanya putus sekolah. Ketiadaan, membuat anak-anaknya malas bersekolah. Hmmm…bagi sebagian dari kita, naik KRL ekonomi atau berbicara dengan orang2 seperti Alda dan Pak Maman adalah suatu hal yang tak terbayangkan. Tapi bagi saya, di situlah tempat saya melihat sisi lain kehidupan, dan belajar untuk tidak henti-hentinya mensyukuri hidup yang diberi oleh-Nya…

 

About Nila Kusumawardhani

Co-Founder / Editor @ NihDia.com. Owner @ CIRI COMMUNICATION.

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply