Tutur Mahaparana

B i n t a n g

“Bintang”… Pelan, dengan tatap ragu dan tak percaya diri kau sebutkan namamu ketika kutanya. Kemudian, dengan suara lirih dan tercekat, kau jawab pertanyaanku dengan, “kelas enam” dan seketika seperti ada yang menusuk hatiku… Ah, Bintang… Engkau berbohong, Nak. Ayahmu bilang, kau masih kelas empat, sama dengan adikmu, karena kau sudah dua kali tinggal kelas… Di usiamu yang sekarang, engkau bahkan belum lancar membaca.

Aku tahu kau memang tak sepandai seharusnya anak seusiamu… Tapi yang kusedihkan adalah nasibmu, kutangisi orang-orang terdekat yang tak mengertimu… Kekerasan fisik dan kata-kata kasar yang kerap terlontar dari pembantu rumahmu, ibu yang menyibukkan diri dengan karirnya, ayah yang sibuk menyenangkan istri muda dan kekasih hatinya…

Bahkan kutangisi gurumu, yang menempatkanmu sekelas dengan adikmu, selalu membandingkan kalian, dan membuatmu selalu berada dalam bayang-bayang sang adik, dan semakin tak percaya diri… Ah, Bintang…tetaplah tegar dan tabah, aku akan selalu memeluk, menghibur, dan menjagamu dari jauh… Aku tak punya hak apapun terhadapmu, Bintaaang… Tapi ku mohon, ku harap, tetaplah bersinar walau awan gelap menutupimu… Tetaplah menjadi Bintang yang terang bersinar, karena namakulah yang ayahmu berikan untukmu.

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

Copyright © 2019 NihDia.com - Jendela Industri Kreatif Indonesia. Theme by MVP Themes, powered by Wordpress.

To Top