3 6 5 H A R I . . .

By on January 1, 2018

Seperti juga kelahiran, kematian adalah mutlak rahasia Allah, yang bahkan mungkin telah tertulis sejak ruh ditiupkan. Hanya kita yang tak pernah mengerti kapan saat itu tiba, merasa bahwa semuanya serba terlalu cepat, terlalu mendadak… Tapi…365 hari sejak kepergiannya, masih selalu ada gemuruh tangis yang tak kunjung henti.

Orang mengenalnya sebagai sosok Ketua RW terlama di lingkungan kami. Sosok kharismatik yang menjadi pengayom di setiap aneka permasalahan dan sengketa warga. Seorang prajurit Angkatan Darat yang tegas dan berwibawa.

Tapi untuk keluarga besar kami, perannya jauh lebih dari itu. Saya mengenalnya sejak kanak-kanak. Beliau menjadi bagian keluarga, bahkan sejak kakek buyut saya masih hidup. Dan sepanjang ingatan, nyaris selalu ada beliau dalam setiap acara penting keluarga besar kami. Pertunangan dan pernikahan para paman dan bibi, dan kemudian satu persatu, para sepupu. Bahkan pada saat saya menikah Beliau rela hanya menghadiri acara akad nikah keponakannya, lalu langsung berangkat kembali menempuh perjalanan jauh di malam hari, hanya agar bisa hadir tepat pada saat saya menikah.

Maka tak heran, ketika menikah dan kemudian pindah di belakang rumahnya (tadinya rumah kami berseberangan jalan dan berbeda RT), ketika ada kesempatan menata halaman…hal pertama yang saya lakukan adalah membuat jalan setapak untuk menghubungkan pintu dapurnya dengan teras rumah kami. Ada pintu besi kecil yang menghubungkan halaman kami. Lewat pintu kecil itulah kami berbagi sapa dan cerita, bahkan penganan dan tamu…Kenapa tamu ? Karena Beliau mengenal hampir semua kerabat tamu saya, dan kerap kami undang Beliau untuk datang bergabung untuk mengobrol bersama.

Dan sejak itu juga, Beliaulah tetangga terbaik, pengganti ayah kandung, bahkan sahabat terdekat saya…Mulai dari operasi Yazid, Mutiara sakit, perjalanan Hiyo ke LN, penjagaan rumah, kehilangan sesuatu, masalah batas kebun dengan tetangga, bahkan pada akhirnya prahara besar pada keluarga kami…tak luput dari pengetahuannya. Selalu ada Beliau untuk memberi nasehat, pandangan, dan penguat…

Setahun berlalu, rasa sakit harus merelakan Beliau berpulang, tak juga kunjung reda. Sering, dalam masa-masa senang dan masa-masa sulit, saya amat sangat merindukan sosoknya…365 hari telah lewat, tak pernah sekalipun jika pergi saya lupa untuk berpaling ke teras depan rumahnya, (ini tempat favorit keduanya setelah teritisan dapur yang menyambung dengan teras saya) tempat Beliau biasa duduk menerima tamu atau sekedar menghabiskan waktu. Berharap kali ini saya dapat menemukan sosoknya di sana. Saya rindukan suaranya, saya rindukan tawa dan senyumnya, bahkan saya rindukan juga bunyi sapu lidinya ketika menyapu halaman rumah…

Cuma doa satu-satunya cara saya untuk menunjukkan cinta dan hormat padanya sekarang. Semoga Allah selalu mendengar doa yang selalu saya ucapkan untuknya, agar Allah benar-benar menyayanginya, menerima dan menjamunya di dalam Surga…Aamiin…

 

About Nila Kusumawardhani

Co-Founder / Editor @ NihDia.com. Owner @ CIRI COMMUNICATION.

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply