Pemenang Community Entrepreneurs Challenge (CEC) Wave III

Pemenang CEC Wave III

Dua komunitas pemenang AGF-BC CEC Wave III, Komunitas Pelangi Nusantara dan Koperasi Wana Lestari Menoreh, saat menerima penghargaan didampingi oleh Keith Davies (Country Director British Council Indonesia) dan John Galvin (Perwakilan Arthur Guinness Fund / Country Manager Diageo Indonesia)

Arthur Guinness Fund (AGF) dan British Council (BC) mengumumkan 6 Community Based Social Enterprise (penggiat kewirausahawan sosial berbasis komunitas) yang sangat menginspirasi dan merupakan pemenang dari Community Entrepreneurs Challenge (CEC) Wave III.

Acara penyerahan penghargaan telah diselenggarakan pada tanggal 23 Maret 2013 lalu bertempat di Blitz Megaplex, Pacific Place Jakarta. Proses seleksi kompetisi AGF-BC CEC Wave III sendiri sudah dilakukan sejak September 2012. Mereka menyisihkan 200 kelompok wirausahawan sosial berbasis komunitas lainnya yang mendaftar mengikuti kompetisi ini.

Enam pemenang ini mendapatkan dana hibah dengan nilai total mencapai 600 juta rupiah dari Arthur Guinness Fund. Dua pemenang terbaik dan satu pemenang paling menginspirasi mendapat hadiah tambahan dari British Council berupa kesempatan ke Inggris untuk mengunjungi dan belajar langsung tentang Social Enterprise di Inggris. Kunjungan ini sekaligus membuka kesempatan bagi para pemenang untuk membangun jaringan internasional di bidang kewirausahaan sosial.

Diskusi Media tentang “Social Enterprise” yang berlangsung di Ballroom II The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta,  menjadi pembuka rangkaian acara pengumuman pemenang AGF-BC Community Entrepreneurs Challange Wave III. Dilanjutkan dengan kunjungan media ke showcase para pemenang AGF-BC CEC Wave I – III.

Sementara pada saat bersamaan, di Ballroom I The Ritz Carlton Pacific Place berlangsung Pameran Pendidikan Inggris “Education UK Exhibition 2013” yang diselenggarakan oleh British Council Indonesia bekerjasama dengan 42 institusi pendidikan dari Inggris.

AGF-BC CEC adalah sebuah kompetisi yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendukung komunitas masyarakat yang memiliki komitmen dan gagasan inspiratif dalam memulai dan mengelola usaha mereka untuk memecahkan masalah-masalah sosial dan lingkungan yang mereka hadapi dalam komunitas lokal mereka.

Tim Juri kompetisi kewirausahawan sosial berbasis komunitas ini telah menetapkan tiga komunitas sebagai pemenang untuk Kategori Pemula (Startup) dan tiga komunitas sebagai pemenang untuk Kategori Pra-Mandiri (Semi-Established). Berikut ini keenam pemenang AGF-BC CEC Wave III :

KATEGORI PEMULA (START-UP)

Komunitas

Lokasi

Bidang

Komunitas Pelangi Nusantara Malang, Jawa Timur Pemberdayaan Perempuan
Koperasi Serba Usaha Nira Satria Banyumas, JawaTengah Pertanian
Kelompok Tani Wanita Sedya Mulya Yogyakarta Pertanian dan Pemberdayaan Perempuan

KATEGORI PRA MANDIRI (SEMI ESTABLISHED)

Komunitas

Lokasi

Bidang

Koperasi Wana Lestari Menoreh Yogyakarta Konservasi Hutan
Komunitas Petani Organik Brenjonk Mojokerto Pertanian Organik dan Eco Tourism
Komunitas Kapuk Jakarta Urban Community Development

Selain mendapatkan pendanaan, dua komunitas pemenang yaitu Pelangi Nusantara dan Wana Lestari Menoreh juga terpilih mengunjungi Inggris pada bulan Mei 2013 untuk bertemu pakar dan praktisi kewirausahaan sosial Inggris. Selain itu, satu komunitas kewirausahaan aspiratif, CV Roas Mitra asal Halmahera Barat, juga ditetapkan Tim Juri  AGF-BC CEC Wave III sebagai  peraih penghargaan “Special Mention”  atas upayanya membangun wilayah timur Indonesia dan memberdayakan kaum perempuan di komunitasnya. Komunitas CV Roas Mitra juga terpilih untuk mengunjungi Inggris.

Sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung perempuan Indonesia, kompetisi Community Entrepreneurs Challenge juga mendorong lebih banyak wirausahawan sosial perempuan berbasis komunitas untuk berpartisipasi dalam kompetisi ini.

Pemenang Pertama Kategori Pemula (Start-Up), Komunitas Pelangi Nusantara, telah melibatkan lebih dari 100 perempuan dalam mengembangkan bisnis kerajinan tangan menggunakan bahan daur ulang dari pabrik-pabrik tekstil di sekitarnya.

John Galvin, Georgie Passalaris, Ipung Nimpuno

Perwakilan Arthur Guinness Funds / Diageo dari kiri ke kanan : John Galvin (Country Manager Diageo Indonesia), Georgie Passalaris (Corporate Social Responsibility Manager Diageo Asia Pacific) dan Ipung Nimpuno (Corporate Relations Director Diageo Indonesia), jelang dimulainya diskusi media tentang “Social Enterprise”

Lebih dari sekedar menghasilkan pendapatan, kaum perempuan di komunitas ini semakin menyadari bahwa meskipun mereka tidak mengenyam pendidikan formal, ada keahlian lain yang dapat mereka kembangkan. Lebih lanjut, bisnis kerajinan tangan yang mereka tekuni  telah memotivasi mereka untuk menjamin pendidikan anak- anak mereka di masa depan.

Pemenang Pertama untuk Kategori Pra-Mandiri (Semi-Established), Koperasi Wana Lestari Menoreh, merupakan sebuah koperasi petani dari Kulonprogo yang memiliki lahan tanaman keras seperti jati, sengon, meranti dan sonokeling. Beranggotakan 1.095 orang, koperasi ini telah berhasil mendapatkan sertifikasi Forest Stewardship Council (SFC) – sebuah sertifikat yang diterapkan di Eropa sebagai pengakuan dari lembaga sertifikasi internasional bahwa kayu yang dihasilkan datang dari hutan yang lestari. Melalui sertifikasi ini, masyarakat dapat mengekspor kayu ke Eropa.

Sebagai bagian dari komitmen untuk pengelolaan kayu yang lestari, koperasi Wana Lestari Menoreh mewajibkan seluruh anggotanya untuk mematuhi aturan “Potong Satu Tanam Sepuluh.” Praktek pengelolaan kayu berkesinambungan ini menjamin harga 25 persen lebih tinggi di atas harga pasar. Melalui mekanisme ini, petani memperoleh manfaat dari pendapatan lebih untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan sehari-hari dan menabung. Para petani dengan demikian mengerti bahwa menyelamatkan pohon dan lingkungan akan menghasilkan tabungan berharga yang bermanfaat untuk mereka sendiri.

Georgie Passalaris

Georgie Passalaris

John Galvin

John Galvin

Wakil Arthur Guinnes Fund, John Galvin, mengatakan, “Program AGF-BC CEC menekankan pentingnya interaksi dalam kegiatan-kegiatan yang menghasilkan perbedaan nyata kepada masyarakat. Kami berkeinginan untuk menginspirasi, mendukung dan mengembangkan generasi pemimpin komunitas berikutnya dan melalui kesuksesan dalam bidang kewirausahaan sosial, mereka dapat memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat. Melalui para wirausahawan sosial ini, kami memfasilitasi pengembangan keahlian dan pembinaan yang dapat membantu pengembangan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan manfaat sosial untuk komunitas yang lebih luas.”

Country Director British Council Indonesia Keith Davies menyatakan sangat senang karena kemitraan dengan Arthur Guinness Fund telah memungkinkan British Council untuk menjangkau lebih banyak orang. “Sejak dimulainya tahun 2010 dan sekarang memasuki tahun ketiga, kami telah dapat melibatkan lebih dari 200 komunitas lokal, yang telah berpartisipasi dalam Kompetisi Kewirausahaan Berbasis Komunitas. Kemitraan dengan Arthur Guinness Fund telah membantu kami dalam menjangkau jaringan wirausahawan komunitas Indonesia dan berkontribusi terhadap sebuah pendekatan alternative pengembangan sosial untuk membantu menemukan solusi pada sejumlah tantangan sosial dan lingkungan.”

Community Journalism Competition

Tahun ini, selain memperkuat kesuksesan sebelumnya, Kompetisi AGF-BC CEC Wave III memadukan tantangan yang dialami komunitas dengan melibatkan kaum muda secara aktif. Paralel terhadap kompetisi ini adalah kompetisi pembuatan film atau dikenal dengan Community Journalism Competition (CJC).

Kompetisi film ini bertujuan untuk memperkuat kisah sukses pemenang AGF-BC CEC Wave III dan menginspirasi kaum muda kota untuk bekerja  kreatif dengan komunitas untuk menemukan solusi kewirausahaan sosial. Terdiri dari enam tim, finalis Community Journalism Competition  menangkap kisah dibalik pemenang Community Entrepereneurs Challenge dan usaha sosial mereka. Pemutaran film dilaksanakan pada tanggal yang sama di Blitz Megaplex, Studio 7, bersamaan dengan pengumuman pemenang AGF-BC CEC.

Enam Finalis Community Journalism Competition adalah :

  • Tim dari Yogyakarta (Cahya Purusatama, Stefan Harmayu Toghas, Ermaya, Widyastuti)
  • Tim dari Purbalingga (Nanki Nirmanto, Mochammad Zakky Nishfu Sya’ban, Indra Cipto Wibawanto)
  • Tim dari Bandung (Reza Perdana Habiebie, Dody Yanrival, Akbar Pramudhita Suteja)
  • Tim dari Purwokerto (Rizki Dwi Rahmawan, Hilmy Febrian Nugraha, Febrianti Dwi Setyarini)
  • Tim dari Depok (Yoel Fermi Kaban, Fernando Sembirin, Christy Permatasari Ginting)
  • Tim dari Makasar (Kiamuddin Tappi, Uswatun Hasanah, Muhammad Yusuf)

Riri Riza, salah satu juri CJC dan pakar pembuatan film mengatakan, “Upaya ini tidak hanya memberikan kesempatan kepada pembuat film aspiratif untuk belajar bagaimana membuat sebuah film dokumenter tapi juga mengajarkan kaum muda untuk mendukung hal-hal baik dalam masyarakat melalui kreatifitas rnereka.”

Pemenang AGF-BC CJC Wave III

Para Pemenang Community Journalisme Competition didampingi oleh John Galvin, Keith Davies dan Riri Riza

Pemenang utama Community Journalism Competition diraih oleh Tim dari Purbalingga (Nanki Nirmanto, Mochammad Zakky Nishfu Sya’ban, Indra Cipto Wibawanto) dengan video mengenai Kelompok Tani Wanita Sedya Mulya. Sedangkan pemenang kedua (runner-up) diraih oleh Tim dari Makasar (Kiamuddin Tappi, Uswatun Hasanah, Muhammad Yusuf) dengan video mengenai Komunitas Petani Organik Brenjonk. Pemenang utama  CJC memperoleh hadiah berupa uang tunai sebesar 50 Juta Rupiah, dan pemenang kedua memperoleh perangkat iPad untuk setiap anggota tim.

Profil Enam Komunitas Pemenang AGF-BC CEC Wave III

Berikut ini profil enam komunitas Pemenang Arthur Guinness Fund – British Council Community Entrepreneurs Challenge (CEC) Wave III. Video dokumentasi mengenai masing-masing komunitas merupakan hasil karya para pemenang / finalis kompetisi Community Journalism Competition (CJC) yang diselenggarakan secara paralel dengan kompetisi AGF-BC CEC Wave III.

Kategori Start-Up

1. Komunitas Pelangi Nusantara

Selama beberapa tahun, Ibu Noor telah membuat hasil karya dari bahan bekas yang didapat dari pabrik tekstil. Saat bermaksud memperbesar usahanya, Ibu Noor menemukan kesempatan besar. Melalui lokakarya kepada masyarakat, Ibu Noor menemukan bahwa banyak perempuan di desa yang memiliki kemampuan berkarya, tapi tertahan oleh ekspektasi dan nilai- nilai tradisional. Hal ini diperkuat dengan kurangnya pendapatan di masyarakat, yang mendorong gadis-gadis untuk menikah di usia muda. Tanpa kepercayaan diri dan kesempatan, kebanyakan perempuan terbiasa untuk tinggal di rumah sepanjang hari.

Pembelajaran ini menghasilkan terbentuknya Pelangi Nusantara, yang bertujuan tidak hanya mengembangkan bisnis Ibu Noor, tapi juga memberdayakan perempuan di masyarakat. Sebanyak 150 perempuan kini menghasilkan Rp 150.000 tiap minggunya, dan bisa menghasilkan total pendapatan sebanyak Rp 10.000.000 per bulan. Keberhasilan ini juga mengubah persepsi dan ekspektasi terhadap perempuan. Mulai ada kesadaran di antara para perempuan, bahwa walaupun tidak memiliki latar pendidikan, perempuan masih bisa memiliki kesempatan berkarya. Para ibu pun semakin terdorong untuk memastikan anak-anak dapat melanjutkan sekolah, agar kesempatan bisa terus bertambah.

Koperasi ini juga berkolaborasi dengan universitas di Malang untuk mengajarkan para perempuan mengenai manajemen, teknologi dan pemasaran. Telah ada perencanaan untuk mengembangkan program bagi wisatawan. Melalui Pelangi Nusantara, komunitas telah dapat berkembang dengan sumber daya yang luar biasa, para perempuan.

2. Koperasi Serba Usaha Nira Satria

Produksi gula kelapa telah menjadi sumber penghasilan utama bagi komunitas Banyumas selama bertahun-tahun, namun masyarakat menjadi sangat tergantung pada pabrik-pabrik besar sebagai pembeli. Karena kurangnya popularitas dari gula kelapa, masyarakat juga tidak banyak menerima dukungan dari pemerintah.

Masyarakat menyadari perlunya suatu perubahan, dan terbangunlah Koperasi Serba Usaha (KSU) Nira Satria. Dengan sebuah proses 3 langkah, industri gula kelapa di Banyumas telah diubah. Pertama, KSU menciptakan struktur kelompok produsen untuk merapikan organisasi. Lalu dengan bekerja sama dengan LSM lokal, sebuah Internal Control System (ICS) dibangun untuk menciptakan standar kualitas yang terukur dan dapat dikomunikasikan ke pembeli, terutama pembeli internasional. Dan terakhir, dilakukan ekstensifikasi produk dengan menggunakan ekstrak pohon kelapa, yang menghasilkan gula kelapa kristal. Gula kristal dapat tahan selama lebih dari 2 tahun, jauh lebih lama dari gula kelapa batu yang hanya tahan selama 3 bulan.

Kini mayoritas usaha adalah melalui ekspor, dan kenaikan pendapatan mencapai rata-rata 40%, yang memberi keuntungan pada lebih dari 1.000 keluarga. KSU Nira Satria juga memungkinkan reinvestasi pada kompor kayu efisien dan pemberian pinjaman dan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Karena gula yang dihasilkan adalah organik, kualitas lingkungan terjaga seiring dengan kualitas gula kelapa, dan bahkan mengurangi efek kimia yang sebelumnya digunakan. Harga gula juga menjadi lebih stabil.

KSU Nira Satria merencanakan pembangunan sebuah toko penjualan, dan berencana menawarkan asuransi kesehatan dan pinjaman secara langsung. Dengan komitmen baru untuk berinvestasi pada masyarakat, Banyumas telah membangun kembali kebanggaan masyarakat dan harapan untuk masa depan.

3. Kelompok Tani Wanita Sedya Mulya

Sudah tak banyak lagi yang bisa dilakukan di desa Kemediang, makin banyak warga desa yang pergi ke kota-kota untuk mencari kerja. Baik untuk bekerja secara permanen ataupun diantara masa tanam. Untuk merespon terhadap kondisi ini, di tahun 1985 sejumlah wanita di desa membentuk beberapa kelompok non formal untuk membantu satu sama lainnya

Di tahun 1987, Lurah desa menggabungkan kelompok-kelompok tersebut menjadi Kelompok Tani Wanita untuk penanaman dan distribusi tanaman pertanian seperti jagung dan padi. Namun begitu, hal tersebut tidak terlalu membantu perkembangan masyarakat di sana.

Keadaan mulai membaik ketika Nurcahyo, mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) datang berkunjung ke desa Kemediang untuk KKN. Dengan jaringan Kelompok Tani Wanita yang sudah terbentuk, Nurcahyo melihat kesempatan untuk merubah produk pertanian desa Kemendiang menjadi produk yang memiliki nilai tambah

Apa yang dilakukan kemudian adalah memproses tanaman pertanian menjadi cemilan khas Indonesia seperti kripik, emping, dan jamu. Hal ini meningkatkan nilai tambah hasil bumi para warga dan dengan dibentuknya koperasi, warga secara langsung mempunyai nilai tawar yang lebih baik dengan memotong jalur tengkulak.

Setelah melalui perubahan di tahun 2010, Kelompok Tani Wanita Sedya Mulya kini memiliki 600 orang anggota wanita yang bisa mendapatkan penghasilan tambahan antara 100-200 ribu rupiah per bulannya. Keberhasilan program ini pada akhirnya berhasil menahan warga desa untuk tetap berada di kampungnya dan membangun reputasi ke seluruh wilayah.

Produksi sekarang ini berlangsung di empat desa dan 11 kampung, dan mereka berencana untuk mengembangkan usaha mereka ke desa-desa tetangga. Di masa yang akan datang, komunitas Sedya Mulya juga berencana membuat program untuk para turis. “Para wanita ini adalah pejuang. Dengan semangat dan keteguhan mereka, yang dibutuhkan hanyalah sebuah ide baru,” ujar Nurcahyo penuh keyakinan.

Kategori Semi-Established

1. Koperasi Wana Lestari Menoreh

Desa Menoreh sudah melakukan penebangan kayu seluas 17,000 hektar sejak tahun 1980, tetapi bekerja secara perseorangan menyebabkan mereka mengalami ketergantungan dengan para tengkulak sehingga investasi kembali kepada lahan menjadi minim. Beberapa orang mulai memikirkan untuk merubah hal ini dan menjadikan komunitas yang ada menjadi lebih terorganisir. Berkat pertolongan beberapa LSM, Koperasi Wana Lestari Menoreh (KWLM) lahir pada tahun 2007.

Usaha-usaha untuk melestarikan hutan sepoerti menanam 10 benih untuk setiap pohon yang ditebang, menghasilkan adanya sertifikasi terhadap kayu yang dihasilkan dan mampu untuk meningkatkan nilai jual antara 30 – 40% lebih tinggi. Keberhasilan lainnya adalah pengembangan dari sistem inventarisasi. Permintaan pesanan paling tinggi datang dari negara-negara di Eropa, namun selalu terjadi di musim penghujan, sehingga menyulitkan mereka untuk memenuhi permintaan tersebut. Dengan adanya sistem inventarisasi, KWLM dapat melacak dan menyediakan pesanan yang diminta.

Hingga saat ini, KWLM memiliki 14 pekerja penuh waktu dan 5 diantaranya adalah perempuan. Sekitar 40 orang bekerja untuk proyek penebangannya masing-masing dengan pemasukan mencapai Rp 40.000 per hari. Secara keseluruhan, basis dari komunitas amat bergantung kepada pepohonan. Saat ini, ketika ada keluarga yang ingin menyekolahkan anaknya, mereka akan menjual salah satu pohon yang dimilikinya. Pada gilirannya, investasi kembali kepada lahan yang dilakukan oleh anggota komunitas bukan lagi menjadi soal keterpaksaan, tapi lebih kepada kebanggan.

Wana Lestari Menoreh didirikan sebagai sebuah cara untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Apa yang kemudian dilakukan adalah, mengubah konsep menabung yang ada pada masyarakat dan menanamkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian untuk masa depan.

2. Komunitas Organik Brenjonk

Pada tahun 9O-an, pemerintah lokal di desa Penanggungan, Mojokerto, membangun sebuah koperasi. Namun tanpa aktivitas perkenalan dan kurangnya keterlibatan warga lokal, inisiatif tersebut tidak dapat berlanjut. Akhirnya di tahun 2002, beberapa warga desa mencoba mengambil pendekatan lokal, dan membangun Brenjonk, sebuah organisasi berbasis komunitas (OBK). Mengawali usahanya dengan menjual beras organik, pada tahun 2007, Brenjonk mulai menjual sayuran, buah-buahan dan rempah organik.

Salah satu pengembangan yang signifikan adalah penggunaan rumah kaca, yang digunakan pada ladang yang relatif sempit untuk mengoptimasi proses pertumbuhan. Rumah kaca juga digunakan untuk memperbaiki kualitas tanaman, dan mempermudah pemeliharaan tanaman. Seiring waktu, rumahkaca semakin banyak digunakan oleh masyarakat perempuan, yang saat ini mencapai 60% dari pengguna total.

Dengan kualitas yang semakin baik, Brenjonk kini dapat menjual ke supermarket, dan dapat memberikan pendapatan tambahan pada keluarga lokal sebanyak Rp 300.000 – 500.000 per bulan. Pendapatan ini terutama membantu anak-anak agar tidak putus sekolah. Baru-baru ini, Brenjonk untuk pertama kalinya berhasil membiayai seorang murid untuk melanjutkan ke jenjang kuliah.

Brenjonk melihat kemungkinan pengembangan lebih lanjut, dari jumlah rumah kaca yang semakin bertambah. Saat ini Brenjonk memproduksi 6.000 paket per bulan, dengan rencana untuk naik ke 30.000 paket. Keberhasilan komunitas ini telah menginspirasi masyarakat lain. “Kami mulai mendapat perhatian dari masyarakat di desa lain, sampai pemerintah pun mulai memperhatikan,” ujar Pak Munief. Pemerintah tidak hanya memperhatikan, tapi juga telah menghimbau desa lain untuk mengimplementasikan model Brenjonk di lokasi masing-masing.

3. Komunitas Kapuk

Mungkinkah situasi rawan banjir di Jakarta menjadi sumber keberuntungan? Sebuah komunitas di daerah utara Jakarta mencoba mengambil manfaat dari masalah banjir, yang kini tidak hanya telah menjadi sumber penghasilan, tapi juga dapat membersihkan lingkungan.

Inspirasinya berasal dari Desa Apung, dimana kelebihan air saat banjir digunakan untuk beternak lele. Komunitas Kapuk di desa Penjaringan menggunakan pemikiran yang sama, dengan membangun koperasi untuk mengelola peternakan lele bersama dengan sebuah program daur ulang sampah. Saat peternakan lele mulai meraih untung, masyarakat menyadari pentingnya kebersihan air demi kualitas peternakan, dan mengurangi pembuangan sampah sembarangan.

Program ini telah dapat memberikan pendapatan tambahan pada masyarakat sebanyak Rp 300.000 – 500.000 per bulan, dan anggota koperasi menabung 10% dari penghasilannya untuk saling membantu anggota lain. Walaupun hidup di kota besar seperti Jakarta, komunitas ini dapat terus mengimplementasikan inisiatif baru secara mandiri, tanpa bantuan dari luar. Inisiatif berkembang ke investasi mesin untuk peternakan lele, dan bekerja sama dengan restoran sekitar untuk pembuatan umpan dari sisa makanan, sehingga semakin mengurangi pembuangan sampah. Komunitas ini juga telah berhasil membangun sebuah jembatan tanpa bantuan dari pemerintah lokal.

Melihat ke depan, Komunitas Kapuk ingin membangun sebuah toko permanen, beserta sebuah pusat edukasi untuk terus menyediakan lahan kerja dan dukungan. Komunitas Kapuk kini telah menjadi contoh sukses.

Tentang Arthur Guinness Fund

Arthur Guinness Fund bertujuan mendukung legasi Arthur Guinness melalui pemberdayaan individu dengan keahlian dan kesempatan untuk menciptakan komunitas yang lebih baik. Arthur Guinness Fund mendukung berbagai kegiatan sosial di seluruh dunia, contohnya Program Water Filter Enterprise di Afrika Barat dan program kewirausahaan sosial di Irlandia, Amerika Serikat, dan Indonesia.

Di Indonesia, Arthur Guinness Fund bekerjasama dengan British Council untuk mengembangkan sistem dukungan berkesinambungan kepada badan-badan kewirausahaan berbasis komunitas yang tengah berkembang untuk memberikan manfaat nyata di dalam komunitas mereka.

Tentang British Council

British Council menciptakan peluang internasional untuk Inggris dan negara-negara lain. Lebih dari 7.000 staf British Council di 100 negara bekerja dengan para professional, pembuat kebijakan, dan jutaan kaum muda melalui Program Bahasa Inggris, seni, pendidikan dan kemasyarakatan.

Di Indonesia British Council aktif sejak tahun 1948. Program-program British Council dirancang untuk membantu Indonesia menyadari potensinya, menciptakan hubungan bilateral yang lebih kuat, serta membantu kecakapan berbahasa Inggris. Secara internasional British Council berfokus pada pendidikan tinggi, membantu memperluas ekonomi kreatif, serta kewirausahaan sosial berkelanjutan di kedua negara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai AGF-BC CEC Wave III, silahkan kunjungi situs resmi British Council Indonesia yang dapat diakses melalui http://www.britishcouncil.or.id.

Bila ingin mengetahui berbagai informasi terbaru dari British Council Indonesia, silahkan kunjungi British Council Indonesia News & Updates atau ikuti British Council Indonesia Facebook Page dan Twitter British Council Indonesia @IDBritish

 


Foto : British Council Indonesia
Video (YouTube) : British Council – Guinness Indonesia, Didi S. – NihDia.com
Sumber : Acara Penyerahan Penghargaan, Diskusi Media, Showcase & Media Rilis  AGF-BC CEC Wave  III

Baca Tulisan Lainnya :

Didi Sutadi

Founder NihDia.com. Karir di bidang IT diawali sebagai programmer di sebuah perusahaan konsultan IT yang menggarap beberapa proyek bank pemerintah. Kemudian berlanjut sebagai senior IT di beberapa perusahaan manufacturing di Jakarta. Hobi dan ketertarikannya di bidang komputer dan programming, membuatnya tetap berkarya dengan mengembangkan beberapa permainan game komputer. Pada tahun 2002 & 2003 terpilih mewakili Indonesia pada ajang Asia Pacific ICT Awards untuk kategori "Entertainment Application". Sejak tahun 2007 merintis usaha di bidang IT & Multimedia, Web Development dan Graphic Communication.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*