Special Tribute Djarum Super Mild Java Jazz Festival

Tribute Utha - Jamaica Cafe

Java Jazz 2013, Tribute To Utha Likumahuwa – Jamaica Cafe

Jazz adalah musik yang dinamis dan menuntut para pelakunya untuk berinovasi dan kreatif terus menerus. Oleh karenanya Djarum Super Mild Java Jazz Festival juga kerap menyuguhkan sajian khas yang berbeda dalam setiap kesempatan pertunjukannya.

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno pernah berpidato dengan semboyan yang terkenal “Jasmerah” atau Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Rasanya, hal tersebut menjadi sesuatu yang pantas untuk dilakukan jika Djarum Super Mild Java Jazz Festival juga membuat sebuah program “Special Tribute” untuk para tokoh yang telah menorehkan sejarah dalam musik (Jazz) di Indonesia.

Ada tiga nama yang telah dipilih oleh Djarum Super Mild dalam program Special Tribute di Djarum Super Mild Lounge pada event Java Jazz kali ini yaitu komposer Ismail Marzuki, Pianis Elfa Secioria dan Penyanyi Utha Likumahuwa. Sejumlah musisi jazz muda berbakat tampil membawakan lagu-Iagu karya Ismail Marzuki, Utha Likumahuwa dan Elfa Secioria dengan interpretasi mereka masing-masing.

Mengenai Special Tribute di Djarum Super Mild Lounge, Roland Halim, Brand Manager Djarum Super Mild mengatakan, “Special Tribute ini menjadi program khusus kami yang digelar di Djarum Super Mild Lounge. Selain sebagai bentuk kepedulian dan apresiasi bagi para musisi yang sudah berjasa bagi perkembangan jazz di Indonesia, Special Tribute ini juga memberi kesempatan bagi musisi-musisi muda, bagian dari kaum urban, untuk berkarya dan berekspresi dengan membawakan lagu-lagu Ismail Marzuki, Utha Likumahuwa dan Elfa Secioria.”

Sepanjang tahun 2012 lalu, Djarum Super Mild juga mendukung perhelatan sejumlah festival jazz yang digelar di tanah air diantaranya Ngayogjazz, JazzTraffic Semarang dan Surabaya serta Mahakam Jazz Fiesta Samarinda, festival jazz pertama di Kalimantan dan diadakan di tepi sungai Mahakam.

“Tujuan kami adalah untuk membuat musik jazz lebih populer dan lebih banyak lagi dinikmati oleh masyarakat,” tambah Roland Halim.

Tiga Special Tribute untuk musisi jazz Indonesia yang digelar Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz 2013 :

  • Tribute To Utha Likumahuwa, Jumat, 1 Maret 2013 (20.45 – 21.30 WIB) menampilkan Dinni Budiayu dan Jamaica Cafe.
  • Tribute To Elfa Secioria Sabtu, 2 Maret 2013 (20.45 – 21.30 WIB) menampilkan  Netta, Monita Tahalea, Jemima dan Yassovi
  • Tribute To lsmail Marzuki, Minggu, 3 Maret 2013 (20.45 – 21.30 WIB), menampilkan Ghea Idol dan Dendy Mike’s.

Siapa sajakah musisi muda berbakat yang tampil membawakan lagu-Iagu karya Ismail Marzuki, Utha Likumahuwa dan Elfa Secioria dengan interpretasi mereka masing-masing?

Pada Special Tribute to Elfa Seciora, Monita Tahalea, biduan remaja bernama lengkap Monita Angelica Maharani Tahalea (Monita Tahalea, Monita, Momon) memang dikenal publik lewat kiprahnya dalam ajang Indonesian Idol musim kedua, sekitar lima tahun lalu. Waktu itu vokalnya sudah menunjukkan karakter jazzy. la pun telah merilis Dream, Hope & Faith, album yang memuat keindahan justru ditunjukkan dalam kesederhanaan.

Jemima Sylvia Wilma Maria Iskandar, akrab dipanggil Jemima memiliki karakter soul yang mengingatkan kita pada karya-karya awal Erykah Badu. Sempat bersekolah di Berklee College of Music dengan jurusan Music Production.

Netta adalah penyanyi yang awalnya kerap menjadi background vocal bagi Kris Dayanti sehingga ia dikenal pula sebagai Netta KD. Kiprahnya dalam dunia jazz terlihat dari beberapa kontribusinya seperti dalam Sound of Belief, Jazzy Ramadhan yang digarap keroyokan bersama Idang Rasjidi, Bintang Indrianto dll.

Nama Dini Budiayu nyaris tak terlacak di peta musik Indonesia. Padahal perempuan berkacamata ini adalah salah satu penyanyi dan pencipta lagu yang cukup berkualitas di Indonesia. Tahun 2010, Dini sempat merilis lagu dan klip berjudul “Mistress” yang sempat jadi perbincangan skena indie. Sampai  akhirnya cewek yang juga guru Bahasa Inggris ini merilis album independen utuh bertajuk “Sometimes Bitter is Sweeter to Taste” yang rilis tahun 2012 silam dan diproduserinya sendiri. Tipikal lagu di album debutnya adalah sederhana, ringan tapi terdengar tulus.

Tribute To Utha Likumahuwa - Dini

Java Jazz 2013 – Tribute To Utha Likumahuwa – Dini

Karirnya dimulai 2009 silam, ketika seorang teman meminta Dini untuk mengisi soundtrack di salah satu film pendeknya. Sejak itu, Dini kemudian memutuskan untuk total di musik. Buat Dini, lagu adalah “anak-anaknya” yang harus dirawat dengan baik. Beberapa lagunya yang mudah kita temukan keteduhannya adalah “Temporaly Broken”, “Senja Yang Sendu”,”None of You Will Marry Me Though”, atau “Seharian”.

Tidak banyak musisi yang benar-benar mengandalkan mulut sebagai instrumentasi di panggung atau rekaman. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Jamaica Cafe. Adalah Prihartono “Anton” Mirzaputra (Bariton 1, Falsetto, Perkusi), Michael “Biyik” da Lopez (Bariton 2), Bayu Seno (Tenor 1, . Beat Box, Trompet, Perkusi), Enriko “Iko” Simangunsong (Tenor 2), dan Tito, yang memutuskan membentuk grup accapela profesional sejak 1996.

Mereka menyebutnya dengan ‘musik mulut’. Sebutan itu pulalah yang mereka pakai ketika merilis album debut “Musik Mulut” Desember tahun 2004 lalu. Album perdana itu mendapat sertifikat Museum Rekor Indonesia sebagai album yang diproduksi dengan alat musik mulut saja. Sedang album keduanya “Twenty One” (Desember 2012) dirilis lewat label Demajors Independen Music Industri (DIMI), dengan lagu utama “Permaisuri” milik Kahitna yang mereka nyanyikan ulang. Sempat mengisi album kompilasi Erwin Gutawa – “Salute to Koes Bersaudara Plus”, 2003, ketika mereka bernyanyi “Nusantara 11”.

Mewakili Bandung, Ghea Dhaliana Oktarin – begitu nama aslinya – sempat melejit namanya ketika menjadi 3 besar helatan Indonesian Idol musim ketiga, 2006 silam. Meski tak menjadi juara, tapi namanya sempat menjadi perbincangan karena dianggap punya kualitas vokal yang bagus.

Tribute To Ismail Marzuki - Ghea Idol

Java Jazz 2013 – Tribute To Ismail Marzuki – Ghea Idol

Cewek kelahiran Bandung 23 Oktober 1989 ini sempat melepas dua single, “Hatiku dan Hatimu'”serta “Kemenangan Hati”‘ tahun 2006. Kini, Ghea yang sempat membuka usaha online ini, bekerja sebagai karyawan di salah satu televisi swasta. Posisinya sebagai karyawan, tak menyurutkan langkahnya untuk tetap muncul sebagai penyanyi profesional.

Di ranah akustik Indonesia, khususnya untuk cover version, nama Dendy Mike’s bisa disebut  salah satu yang laris manis. Karakter suaranya yang berat, lafal bule yang cukup fasih dan perbendaharaan lagu-Iagu ngetop yang cukup banyak, menjadikan nama Dendy cukup berkibar. Pemilik nama lengkap Oendy Mulya Pasha Prayoga Hamid ini awalnya dikenal sebagai vokalis band Kunci. Band ini dikenal sebagai salah satu band pop-rock yang cukup menjanjikan ketika itu. Sebelum akhirnya cowok kelahiran 28 Desember 1976 ini memutuskan hengkang dan bergabung dengan band cover yang awalnya bernama Mike’s Apartment.

Band ini memilih lagu-lagu era 90an sebagai acuan. Dendy juga pernah mendapat peran utama dalam drama musikal “Ali Topan- The Musical” (2011) bersama Kikan, eks vokalis Cokelat. Dendy juga pernah menjadi vokalis terbaik dalam ajang Indonesian Song Festival (INSOF) 2010.

Selain menikmati Special Tribute, para pengunjung di Djarum Super Mild Lounge bisa memperoleh update terbaru atau real time mengenai jadwal dan penampilan para musisi internasional dan nasional yang terpampang di Touch Screen Information. Fasilitas lain yang disedikan di Djarum Super Mild Lounge adalah games dan photo booth yang bisa langsung mengunggah foto pengunjung ke facebook maupun twitter secara bersamaan.

Utha Likumahuwa

Lahir 1 Agustus 1955 atas nama Doa Putra Ebal Johan Likumahua di Ambon Maluku dan meninggal dunia di Jakarta dalam usia 56 tahun pada 13 September 2011. Dalam masanya ia merupakan penyanyi kelas atas di Indonesia bersama Fariz RM, Mus Mudjiono, Odie Agam, Adjie Soetama dan almarhum Christ Kayhatu.

Sepanjang karirnya, paman dari bassis Barry Likumahuwa dan adik trombonis Benny Likumahuwa ini telah mengeluarkan 11 Album dan 2 Album Kompilasi antara tahun 1982 sampai 2007. Prestasi terbaiknya antara lain runner up ASEAN Pop Song Festival (Manila), Asia Pacific Singing Contest (Hongkong), dan juara dua bersama Trie Utami lewat lagu “Mungkinkah Terjadi” dalam ABU Golden Kite World Song Festival di Kuala Lumpur.

Lagu-lagunya yang dikenal luas antara lain “Untuk Apa Lagi”, “Puncak Asmara”, “Masih ada Waktu” hingga “Esok kan masih ada”.

lsmail Marzuki

Merupakan komposer, pencipta lagu sekaligus musisi kelahiran Kwitang, Senen yang dikenal akrab dengan sebutan Bang Ma’ing (Iahir 11 Mei 1914; wafat 25 Mei 1958). Dikenal luas lewat karya terbaiknya seperti “Rayuan Pulau Kelapa”, “Aryati”, “Sabda Alam”, “Gugur Bunga”, “Juwita Malam” hingga “Indonesia Pusaka” dan masih banyak lagi lainnya.

Tokoh pahlawan nasional ini pada lagu-lagu ciptaanya, banyak memuat lirik bertendensi nasionalis, patriotik, kisah cinta yang unik, hingga kejadian sehari-hari. Gubahan Bang Maing lebih sering dijumpai dalam aransemen keroncong, seriosa, ataupun orkes bahkan kini pada jazz. Diantara musisi jazz Indonesia yang pernah membawakan tembang Ismail Marzuki, antara lain Nick Mamahit, Bill Saragih bahkan pianis Nial Djuliarso merilis album khusus The Jazz Soul of Ismail Marzuki. Komposisi Ismail Marzuki bahkan dapat disetarakan dengan dengan “The Great American Song book”.

Elfa Secioria

Elfa Secioria Hasbullah nama lengkapnya, akrab dipanggil Bang Eel. Lahir di Garut Jawa Barat 20 Februari 1959, meninggal di Jakarta, 8 Januari 2011 di usia 51 tahun. Dikenal luas sebagai komposer dan pencipta lagu Indonesia yang membidani kelompok musik Elfa’s Singer dan mengorbitkan penyanyi Sherina dan Andien.

Penerima Satyalencana Kebudayaan 2010 dan Nugraha Bhakti Musik Indonesia (NBMI) tahun 2011 ini juga kerap mengharumkan nama Indonesia lewat kiprahnya di kompetisi musik Internasional seperti menjadi jawara di Olimpiade Choir Dunia di Linz, Austria, Busan, Korea, lalu Bremen, Jerman, hingga Xia Men, Cina.

Dalam sejarah musik Jazz Indonesia, jejak Bang Eel bisa kita lihat dari penampilannya di TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi di era 80-an. Elfa’s Big Band dan Elfa’s Singers garapannya tampil di acara orkes Chandrakirana dan Orkes Telerama. Vibraphone adalah salah satu instrumen yang sangat dikuasai Elfa, di Indonesia tidak banyak yang mahir memainkan alat tersebut.

Elfa juga dijuluki sebagai Sergio Mendes-nya Indonesia. la kerap membawakan lagu-Iagu Jazz bergaya Bossa Nova. One note Samba milik Antonio Carlos Jobim adalah salah satu lagu andalannya dalam kompetisi Internasional.

Tribute To Elfa Secioria

Java Jazz 2013 – Tribute To Elfa Secioria

Untuk informasi seputar Djarum Super Mild Java Jazz Festival 2013, dapat dilihat melalui :


Foto : Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz Festival 2013
Video : YouTube (Djarum Super Mild)
Sumber : Press-Release Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz Festival 2013

Didi Sutadi

Founder NihDia.com. Karir di bidang IT diawali sebagai programmer di sebuah perusahaan konsultan IT yang menggarap beberapa proyek bank pemerintah. Kemudian berlanjut sebagai senior IT di beberapa perusahaan manufacturing di Jakarta. Hobi dan ketertarikannya di bidang komputer dan programming, membuatnya tetap berkarya dengan mengembangkan beberapa permainan game komputer. Pada tahun 2002 & 2003 terpilih mewakili Indonesia pada ajang Asia Pacific ICT Awards untuk kategori “Entertainment Application”. Sejak tahun 2007 merintis usaha di bidang IT & Multimedia, Web Development dan Graphic Communication.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*