LA Lights Music Project, Pelopori Lahirnya Musik Baru Indonesia

LA Lights Music Project JSF 2012  - Sandhy Sondoro & Gecko

LA Lights Music Project Java Soulnation Festival 2012 – Sandhy Sondoro & Gecko

LA Lights Music Project, sebuah proyek yang mengusung kreatifitas dan improvisasi bermusik dengan menghadirkan kolaborasi lima jebolan LA Lights Indiefest dan LA Lights Meet The Labels dengan sejumlah musisi ternama tanah air seperti Sandhy Sondoro, Andien, Ras Muhamad, Millane Fernandez, sukses digelar dan berhasil memukau penonton yang memadati LA Lights Main Stage pada hari ke-3 penyelenggaraan Java Soulnation Festival 2012 di Istora Senayan Jakarta (30 September 2012).

LA Lights Music Project adalah sebuah konsep musik hasil kerja bareng sejumlah bintang dan musisi ternama Indonesia yang digawangi oleh Eki Puradireja (Program Coordinator Java Festival Production). Dalam LA Lights Music Project, para jebolan LA Lights Indiefest dan LA Lights Meet the Labels ditantang kreatifitas bermusiknya untuk membuat dan mengubah lagu-lagu, serta membawakannya.

Para jebolan program musik LA Lights, baik LA Lights Indiefest maupun LA Lights Meet The Label yang terlibat dalam LA Lights Music Project ini meliputi 4 grup band dan satu soloist, yaitu: Gecko (Putri Oceanan Maharani, I Made Mahendra Dwi Artha, I Made Dwi Perdana Putra dan I Made Pratama Putra); dua personil The Banery (Rafly dan Egy); Lars (Mario, Alan, Dewa), Respects (Babas & Wiwin), serta Joshua March.

“LA Lights Music Project bukan hanya kolaborasi dan pertemuan musisi berbeda genre, kemudian digabung main bareng di atas panggung seperti yang sudah-sudah. Lebih dari itu, kami saling memberi impresi satu sama lain, jadi sama-sama belajar, ” ungkap Eki Puradiredja, pria yang pernah populer dengan kelompok musik Humania-nya itu.

Para musisi pendukung LA Light Music Project saat  jumpa pers

Para musisi pendukung LA Light Music Project saat jumpa pers jelang LA Lights Java Soulnation Festival 2012

Idenya memang berawal dari Eki. Ketika itu, dia harus memberikan presentasi tentang proyek musik apa yang belum pernah dilakukan dan bisa memberikan satu greget yang lebih kepada perhelatan akbar musik urban LA Lights Java Soulnation Festival 2012. “Ini berbeda dengan proyek-proyek musik yang pernah ada di festival lainnya. Karena dalam proyek ini, semua ditantang untuk mengeluarkan kreatifitas dan progresifitasnya dalam memainkan musik dan membuat lagu,” tambahnya.

Bukan perkara mudah tentu saja, karena masing-masing grup band yang terlibat mempunyai pakem dan gaya yang tidak bisa diutak-atik. Alter ego yang kuat masih mendominasi. “Pendekatan saya personal. Mereka saya ajak ngobrol, diskusi, saya beri bacaan dan kita saling terbuka layaknya sahabat yang saling curhat saja,” terang Eki lagi.

Eki memang dipandang senior dengan pengalaman dan wawasan musikal yang luas. Tugasnya adalah mengarahkan, menstimulasi, juga mengharmonisasikan dengan penuh keriangan awak band The Banery, Gecko, Lars, Joshua Mars dan Respects  (lima band jebolan ajang LA Lights Indiefest dan LA Lights Meet the Labels)  yang dia godok sedemikian rupa untuk menyemarakkan ajang LA Lights Java Soulnation Festival 2012  pada hari ketiga penyelenggaraannya di Istora Senayan, Jakarta.

Musikalitas mereka tidak bisa dipaksakan, karena sudah ada pakem dan barikade yang band-band itu punya. “Saya tidak akan mengutak-atik barikade dan pakem yang sudah mereka punya,” tegasnya. Sebagai ajang yang dalam bahasanya merupakan creativity challenge itu, Eki sebisa mungkin membuat empat band dan seorang solois itu, menjadi spesial dan penuh kreatifitas. Meski keempat band dan seorang solois itu, karakternya jauh beda. “Bannery gayanya 60-an. Ngeluarin warna mereka dengan sentuhan urban, dengan lagu baru dan bikin beda, itu sangat tricky. Atas alasan itu, kami mengadakan workshop untuk menghasilkan lagu baru,” jelas Eki lagi.

Hal menarik yang selalu ditanamkan kepada band atau solois yang terlibat dalam proyek  ini adalah open mind. Sebab, kerja kreatif itu, dalam kacamata Eki membutuhkan kerterbukaan dan tantangan. Sebagai proyek pertama selama 9 tahun bergabung dengan JFP, dia berharap proyek ini menjadi pilot project yang berkelanjutan di setiap tahunnya. “Proyek ini harus mewakili warna dari semangat Soulnation,” katanya.

LA Lights Project JSF 2012 - Joshua March & Andien

LA Lights Music Project Java Soulnation Festival 2012 – Joshua March & Andien

JSF 2012 - Mario (Voc Lars) & Millane Fernandez

LA Lights Music Project Java Soulnation Festival 2012 – Mario (Vokalis Lars) & Millane Fernandes

Semangat Soulnation untuk masyarakat urban yang dia maksud adalah musik yang populer di kota-kota besar seperti musik R n’ B, Pop Rock, Soul, Hip Hop, Blues, Urban Blues, Dancing, Jazz, hingga Rap. “Dengan tetap menjaga warna asli setiap grup band, namun menghasilkan sesuatu yang baru,” tambah Eki.

Dengan pemahaman itulah, Eki yakin ajang LA Lights Music Project 2012 dapat membuka pintu kesuksesan untuk para band yang terlibat. Juga pengalaman musikal baru bagi penikmatnya. Karena dia akan menyajikan pemahaman baru, pada dasarnya tidak ada batas antara band indie dan mainstream. Dengan menghilangkan gap dan pengotak-kotakan antara band indie dan mainstream itu, “Mudah-mudahan ini menjadi tolak ukur baru dalam membuat konser musik, karena konsepnya jelas. Sebab, ngeband harus ada konsepnya,” tekannya.

Koridor-koridor dalam berkreatifitas itu dipertahankan Eki, karena menurutnya ketika dilepas tanpa koridor jelas, musik itu akan lari kemana-mana dan tidak menghasilkan apa yang diharapkan. The Banery dan Respects bersama Gecko, Lars dan seorang solois Joshua March yang secara maraton bersinergi dengan kemampuan musikalitas bersama sejumlah musisi bintang tamu terpilih, seperti Sandhy Sondoro, Ras Muhammad, Millane Fernandez, Andien, Jevin (Beatboxer).

Didukung musisi-musisi lain yang sebelumnya sudah malang melintang dijagat musik Indonesia, seperti Rayendra Sunito, Ali Akbar Sugiri, Donni Joesran, Bonar Abraham, Nikita Dompas, Rejozz dan beberapa nama lainnya, diharapkan Eki, “Dapat memberikan sebuah alternatif baru dalam khazanah musik kita.”

Pemaparan Eki ini dipertegas oleh Maya Shintawari, Brand Manager LA Lights. Dikatakannya, “LA Lights Music Project mengusung kreatifitas dan improvisasi bermusik antara lima jebolan LA Lights Indiefest dan LA Lights Meet the Labels dengan beberapa musisi tanah air ternama. LA Lights Music Project merepresentasikan karakter brand LA Lights, yakni kreatif dan progresif.”

LA Lights Music Project JSF 2012 - Sandhy Sondoro, Babas (Vokalis Respects), Rafly (Vokalis The Banery)

LA Lights Music Project Java Soulnation Festival 2012 – Shandy Sondoro, Babas (Vokalis Respects) & Rafly Vokalis The Banery

LA Lights Music Project Java Soulnation Festival 2012 - Seluruh artis pendukung

LA Lights Music Project Java Soulnation Festival 2012 – Seluruh artis pendukung

 

Lima Band LA Lights Music Project

GECKO
Berasal dari Bali, Gecko adalah salah satu jawara LA Lights Indiefest 2010. Band ini melewati band-band matang dari Pulau Jawa, lokasi lahirnya band-band nasional di Indonesia. Sebagai pengusung pop dengan sisi-sisi distorsif yang kadang-kadang melengking, band yang dikawal oleh Putri Oceanan Maharani (vocal), I Made Mahendra Dwi Artha (drum), I Nyoman Dwi Perdana Putra (bass) dan I Made Pratama Putra (gitar), sudah punya jam terbang cukup tinggi di kancah musik tanah air. Single “Aku Cemburu” dan “Jangan Bilang Siapa-Siapa” cukup mengangkat nama band ini.

Tak heran, kemudian band ini menjadi opening konser besar seperti Paramore dan Evanescence. Gecko juga sudah punya mini album yang direspon pasar cukup bagus. Dalam project ini, Gecko bekerjasama dengan Sandhy Sondoro.

Sebenarnya memang tak ada yang aneh terjadinya persinggungan dalam musik. Malah kerap memunculkan kejutan-kejutan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Padahal kalau disinergikan dengan serius bukan sekadar tempelan, jatuh cintanya genre satu dengan genre yang lain, akan melahirkan satu gelombang musikal yang bakal membuat kita terpesona.

Gecho memang artinya tokek. Binatang yang menempel di tembok atau langit-langit kamar dengan suara khas-nya yang mengagetkan. Dan Gecko (Band) pun, sebenarnya sudah memberi kejutan saat terpilih sebagai salah satu finalis LA Light Indiefest 2009 silam.

Workshop LA Lights Music Project – Shandy Sondoro & Grup Band Gecko

“Mengejutkan tapi juga membuka mata, kalau kita memang bisa jadi lebih baik,” ujar Gecko tentang pengalamannya tampil bersama band-band level dunia itu.

Persoalannya kemudian adalah, band yang sudah sempat merilis mini album ini mendapat tantangan yang tidak pernah terbayangkan, mengulik nada dan kata bersama Sandhy Sondoro dalam helatan LA Lights Music Project dalam rangkaian LA Lights Java Soulnation Festival 2012 di Istora Senayan, 30 September 2012. Pria yang makin melejit namanya itu, punya wilayah soul dan black music, yang notabene berbeda sama sekali.

Selain bermukim di dua kota yang berbeda, dua kubu yang jadwalnya sama-sama padat ini harus disatukan untuk menciptakan musik yang bisa memunculkan sensasi baru. Seperti apa sih musiknya? Kejutan pastinya, tapi kejutan itu lahir dari kreatifitas, totalitas dan kapasitas bermusik yang mumpuni.

“Challenge terbesar adalah jadwal dan konsep musik kami yang berbeda, tapi ditantang untuk mendapat hasil yang berbeda dari kedua basic bermusik kami,” ujar Gecko. Menyerah? Tentu saja tidak. Meski awalnya tergopoh-gopoh, tapi dinamika pop dan black music dengan riak-riak rock yang ringan, berhasil mereka temukan.

Sementara Sandhy yang namanya juga berkibar di Eropa Timur mengatakan, “Saya sangat menyambut ide me-refresh musik. Apalagi kemudian ada tantangan membuat musik yang juga fresh, sarat kreatifitas, dan juga berdiskusi dengan  musisi lain dalam kolaborasi pada special project ini. Faktor background musik yang berbeda dipadu talenta-talenta musik dan dipadu keinginan membuka diri, mencoba hal baru, merupakan spirit musik yang total.”

LARS
LARS adalah jebolan LA Lights Indiefest 2010. Leburan dari beberapa band pop yang sebelumnya sudah ada yang merilis album. Ketika sepakat mengganti nama LARS, mereka sepakat menjadi band yang sesuai filosofi namanya, kuat menapak bumi dan kuat bertahan di industri musik Indonesia. Diawaki Mario (vocal), Alan (drum) dan Dewa (bass), Lars ingin punya tekad sesuai semangat namanya.

Bentukan tahun 2009, LARS memang awalnya memproyeksikan diri untuk ikut dalam beberapa festival. Mereka menyebutnya pelepasan ekspresi dan kebebasan musikal. Berafiliasi dengan band-band seperti Creed, AlterBridge atau U2 sebagai acuan, LARS memadukannya dengan pop rock yang mereka geber.

Dalam project ini, Lars yang populer dengan lagu “Cinta Sudah Mati” dan “Setengah Jiwa” didapuk untuk berkolaborasi dengan penyanyi soul R n’ B, Millane Fernandez.

Nah, ketika harus berkolaborasi dengan Milane Fernandez, LARS tak serta merta kebingungan. Padahal, ranah musikalnya berbeda. Milane yang menguasai saxophone, pernah merilis beberapa single berbahasa Inggris di Jerman. Tak hanya itu, penyanyi wanita ini  juga menjadi peserta kontes musik  Eurovision Grand Prix mewakili Jerman. Alhasil, industri musik di Eropa sejatinya sudah diakrabinya sejak lama.

Workshop LA Lights Music Project – Grup Band Lars didampingi Eki Puradiredja dan para musisi senior

Workshop LA Lights Music Project – Grup Band Lars

Nah, sinergi dua kubu timur dan barat ini yang oleh Eki Puradireja selaku Music & Project Director untuk project ini dan Program Coordinator di JFP, disatukan dalam satu kotak Pandora yang sama, LA Lights Music Project di panggung LA Lights Java Soulnation Festival 2012. Tapi tidak sesederhana itu, karena LARS harus menemukan ramuan baru supaya mix-nya dengan Milane melahirkan karya musikalitas yang benar-benar fresh dan dijamin, akan menyentak sensasi telinga dan mata. Ada ego yang ditahan, ada ide yang dilepas dan ada improvisasi yang digeber.

Buat Lars, apa yang dilakukannya ini seperti “selingkuh”  dengan musiknya sendiri. “Kita seperti mencari pasangan baru, sementara pasangan yang lama kita tinggalkan,” celetuk Lars beranalogi. Maksud mereka, dasar bermusik yang sudah jadi pakem Lars, sementara harus ditinggalkan, dan berani mencoba sisi musikalitas baru yang tak pernah mereka rasakan. Tak heran awalnya sempat gamang. Lantaran keluar dari zona nyamannya, Lars sempat kikuk  di awal latihan. Tapi ego yang diendapkan, akhirnya berhasil membuat Lars dan Milane menemukan titik yang pas dalam perselingkuhan musikalnya.

Dalam bahasa Eki, “LA Lights Music Project lebih dari sekadar kolaborasi. Project ini melibatkan banyak aspek, kreatifitas dan sebuah tim produksi yang besar. Misalnya saja, dari aspek lagu, kami akan mengaransir ulang lagu-lagu menjadi jauh sekali dari aslinya.”

RESPECTS
RESPECTS adalah alumni LA Lights Indiefest 2011. Band yang terbentuk 22 Juni 2009 ini awalnya diawaki lima personel, namun akhirnya hanya menyisakan Babas (vocal) dan Wiwin (gitar) sebagai personel tetap. Lagunya yang sempat masuk dalam kompilasi adalah “Serba Salah” dengan karakter rock n’ roll yang amat kental. Tidak mengherankan, karena band dengan vokalis bersuara berat ini tumbuh dan besar dengan musikalitas di Gang Potlot, tempat salah satu legenda rock n’ roll Indonesia, Slank, bernaung. Dalam project LA Lights Music Project ini, Respect ditandemkan dengan Jevin, seorang Beatboxer.

Seperti sebuah pertarungan kata-kata saja. RESPECTS adalah band dengan basis musik blues dan rock n’ roll kental. Liriknya cenderung kritis dan sarkastis. Nah. Kini mereka diperhadapkan pada Jevin Beat Box, yang merepet dengan mulut dan bermusik tanpa alat.

PASANG SURUT personel, sudah mereka jalani. Dari full band komplet hingga kini menyisakan 2 personil sisa, Babas (vocal) dan Wiwin (gitar). Itulah Respects, nama yang punya tanggungjawab besar. Di panggung festival, nama Respects sudah seperti jaminan menang. Mereka beberapa kali selalu masuk jadi finalis. Halaman musikalnya yang dipenuhi aroma blues dan rock n’roll, membentuk karakter yang khas. Diakui atau tidak, Respects sudah punya ciri rock yang nemplok di tiap aksi panggung mereka.

Beberapa event besar sudah mereka lalui, paling tidak menambah jam terbang bersama musisi-musisi senior lainnya. Respects juga sempat “nyaris” menjadi opening band besar, Incubus, 2011 silam. Tapi Respects pun pernah kena cobaan. Ketika itu, beberapa personel awal mundur dari line-up. Personel mundur malah membuat mereka makin berani, dan eksis untuk muncul lebih tegas. Kesempatan-kesempatan yang berdatangan itu memberi energi baru yang menggila pada personelnya.

Workshop Respects & The Banery

Workshop LA Lights Music Project – Grup Band Respects & The Banery

Tantangan muncul lagi dalam LA Lights Music Project, yang mempertemukan mereka dengan Jevin Beat Box yang memainkan musik hanya lewat suara di mulut. Nah, Respects yang ngeband, harus duet bersama musik mulut-nya Jevin (yang kerap menjadi juara kompetisi beat box juga).

Ini tidak sekadar bicara mental di panggung, tapi juga ada improvisasi, kreatifitas, atau progresifitas bermusik yang tidak terduga.  Apalagi tuntutannya adalah mengubah satu lagu menjadi satu aransemen baru yang benar-benar berbeda. Malah bisa dibilang sedikit menyempal. Dan yang penting, tidak digarap asal-alasan atau sekadar tempelan. Benar-benar baru!

Lagu yang dipilih berjudul “Serba Salah”. Lagu ini dibongkar dengan aransemen yang tidak pernah dibayangkan. Pusing? Awalnya, Respect merasakan hal itu, karena benar-benar harus keluar dari pakem dan mindset ngeband yang sudah ada di kepala mereka. “Menjadikan lagu kita lebih urban, itu tantangan yang bikin kita deg-degan juga,” jelas Respects.

Kreatifitas Respects sebagai band anak muda, tidak terbatas hanya mengubah aransemen, tapi juga mengagetkan orang yang sudah menganggap mereka tidak bisa lepas dari blues. Progresifitas dan keberanian keluar dari kotak pandora dengan cepat, juga membuat kolaborasinya dengan Jevin, akhirnya benar-benar terdengar nyeleneh dan unik. Gokil.

Jevin sendiri sebenarnya seorang drummer (jazz), tapi namanya lebih melejit sebagai pentolan beat box. Musik mulut ini memberikan kejutan kepada Respect yang biasa ngeband. “Awalnya memang seperti kaku dan aneh, tapi lama-lama malah jadi asik,” kata Respects ketika pertama kali latihan.  Jevin sendiri mengaku tidak ada kesulitan ketika masuk dalam aransemen baru yang mereka lahirkan. “Kolaborasi ini full of surprise,” ucap Jevin

THE BANERY
THE BANERY adalah band asal Jakarta, yang terbentuk tahun 2004. Dalam setiap penampilannya, band ini punya ciri khas dasi kupu-kupu selain musiknya yang mengingatkan kita pada sound-sound The Beatles. Harmonisasi suara juga salah satu kekuatan dari band yang kini diawaki oleh Rafly (bass), Yudi (gitar), Egi (lead gitar), dan Adam (drum). Sebagai jebolan LA Lights Indiefest 2009, The Banery sudah sempat merilis album utuh Karena Dia (2009). Dalam LA Lights Music Project, band pembawa pop rock n roll ini harus bersinergi dengan Ras Muhammad, pengusung musik reggae.

JOSHUA MARCH
JOSHUA MARCH merupakan satu-satunya solois yang terlibat dalam LA Lights Music Project kali ini. Cowok 10 Maret 1989 ini adalah pilihan label dalam event LA Lights Meet The Labels 2011. Sebagai pendatang baru, bakatnya cukup komplet. Talenta terbesarnya adalah menyanyi, sempat mengikuti pendidikan vokal di Elfa Music Studio. Tidak hanya vokal, Joshua juga mendalami piano di Institut Musik Indonesia dan saksofon di Y2K Music School. Dan selain musik, Joshua ternyata juga mendalami modelling dan akting di Look Performing Art School. Dia menulis lagu-lagunya sendiri dengan dibantu oleh senior-seniornya di dunia musik. Dengan nuansa pop akustik yang dibumbui jazzy mengiringi atraksi vokal vibrasi-nya yang unik. Singlenya yang melejitkan namanya adalah “100 Persen”. Dalam project ini, Joshua harus beradu vokal dengan penyanyi jazz, Andien.

 

Panggung LA Lights Music Project Java Soulnation 2012

Akhirnya yang ditunggu-tunggu tampil juga, yaitu performance para artis yang tampil di LA Lights Music Project.

Tampil di LA Main Stage pada hari ke-3 penyelenggaraan LA Lights Java Soulnation 2012 Minggu 30 September mulai pukul 17.00 WiB, Millane Fernandez membuka penampilan para musisi yang tergabung dalam LA Lights Music Project dengan lagu milik Lady Gaga “Born This Way”.

Penampilan Millane disusul grup band Gecko asal Bali yang berkolaborasi dengan Sandhy Sandoro membawakan lagu “Maaf”. Band beraliran rock alternative ini membawakan lagu dengan aransemen yang berbeda sama sekali dari musik yang mereka biasa mainkan. Sang vokalis, Putri Oceana Maharani dengan suaranya yang pop-rock, berduet dengan Sandhy Sondoro dengan harmonisasi vokal yang keren.

Selesai duet maut itu, masuk penyanyi cowok dengan jas maroon Joshua March. Dengan gayanya yang dandy, Joshua mampu membius penonton terutama kaum hawa hawa yang hadir di dalam Istora Bung Karno lewat lagu “100%’”.  Disusul penampilan Joshua yang tampil berduet dengan Andien. Penyanyi wanita beraliran musik jazz kelahiran 25 Agustus 1985 ini tampil seksi memanaskan panggung LA Lights Music Project membawakan lagu bertema cinta bersama Joshua March yang kerap mengundang teriakan histeris para penonton khususnya kaum remaja putri yang berada di barisan depan.

Dilanjutkan dengan penampilan selanjutnya, The Banery feat Ras Muhammad yang tampil keren habis. Ras Muhammad dengan rambut gimbalnya yang panjang, memberi sentuhan rap sementara The Banery yang tampil dengan aksesoris ala reggae terus mengajak penonton bergoyang. Khusus buat LA Music Projects, The Banery membuat dan membawakan lagu baru berjudul “Hilang dan Kembali”.

Lalu kolaborasi unik para musisi ini berlanjut yang menggabungkan band LARS dan Millane Fernandez untuk berduet di lagu “Setengah Jiwa”. Sama seperti The Banery, LARS juga membuat lagu spesial untuk LA Lights Music Project berjudul “Travel to Asgard”.

Kejutan lain muncul bersamaan tampilnya Beatboxer Jevin yang sukses membuat penonton terkesima dengan kemampuannya meniru suara drum, beats dan rhythm. Lalu kolaborasinya dengan band Respect membuat suasana tambah panas. Uniknya, Respect yang biasa tampil membawakan lagu-lagu rock langsung berputar 180 derajat saat membawakan lagu “Serba Salah” dilanjutkan dengan ‘Berdansa’.

Panggung LA Lights Music Projects ditutup dengan kolaborasi antar vokalis Respect, The Banery dan Sandhy yang membawakan single hit milik Bruno Mars “Runaway Baby”, diikuti penampilan seluruh musisi pendukung LA Lights Music Project.


Foto : LA Lights Music Project, Java Soulnation Festival 2012, LA Lights
Video : YouTube (Java Soulnation & Sahabat Setia)
Sumber : LA Lights Music Project, Java Soulnation Festival 2012, LA Lights

Didi Sutadi

Founder NihDia.com. Karir di bidang IT diawali sebagai programmer di sebuah perusahaan konsultan IT yang menggarap beberapa proyek bank pemerintah. Kemudian berlanjut sebagai senior IT di beberapa perusahaan manufacturing di Jakarta. Hobi dan ketertarikannya di bidang komputer dan programming, membuatnya tetap berkarya dengan mengembangkan beberapa permainan game komputer. Pada tahun 2002 & 2003 terpilih mewakili Indonesia pada ajang Asia Pacific ICT Awards untuk kategori "Entertainment Application". Sejak tahun 2007 merintis usaha di bidang IT & Multimedia, Web Development dan Graphic Communication.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*