Pendekar Kelana, Babakan Baru Seni Beladiri Pencak Silat Di Pentas Teater Non-Verbal

Pergelaran Teater Silat Pendekar Kelana persembahan Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong (PPS Betako) Merpati Putih bekerjasama dengan GELAR, bertempat di Gedung Kesenian Jakarta 7-8 Juli 2011

Pergelaran seni beladiri dalam format teater gerak Pendekar Kelana yang diprakarsai oleh GELAR dan Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong (PPS Betako) Merpati Putih, tampil memukau dan mendapat sambutan positif dari undangan dan pencinta seni pertunjukan (performing art) selama dua hari penyelenggaraannya di Gedung Kesenian Jakarta, tanggal 7 dan 8 Juli 2011.

NihDia.com bersama undangan lainnya yang menyaksikan Pergelaran Pendekar Kelana di hari kedua, disuguhi sebuah pergelaran non-verbal yang merupakan kolaborasi ciamik antara koreografi, gerak tubuh, mimik, ekpresi, atraksi pencak silat dengan keilmuan Merpati Putih, musik kontemporer tradisi, dan balutan cerita berbasis tradisi yang ringan, jenaka serta menghibur.

Karya panggung ini diproduseri oleh GELAR yang dipimpin oleh Bram dan Kumoratih Kushardjanto (Ratih),  produser seni pertunjukan yang sejak tahun  1999 sudah aktif mempromosikan kesenian tradisi Indonesia dengan format yang beragam. Pergelaran ini juga didukung oleh sutradara Atien Kisam serta pekerja seni lainnya yang banyak berkecimpung dalam dunia seni pertunjukan, antara lain koreografer Wiwiek HW, musisi muda berbakat Joko ‘Porong’ Winarko, dan lainnya. Sebagai pemain adalah para pesilat yang kesemuanya tergabung dalam PPS Betako Merpati Putih.

Pertunjukan yang dikemas dalam sebuah garapan non verbal performance atau teater non-verbal ini meramu berbagai atraksi yang diambil dari teknik / jurus-jurus silat khas Merpati Putih. Sajian utama dari pertunjukan ini adalah unjuk gerak dan kekuatan tenaga dalam ala Merpati Putih. Koreografi memegang peranan penting di pertunjukan ini, di mana jurus dan teknik tadi akan digerakkan di dalam bungkus komposisi gerak – dengan basis tradisi, yang mengambil esensi gerak dari tiap-tiap jurus tersebut. Koreografi ini diiringi musik kontemporer tradisi yang disusun juga dengan mengambil idiom-idiom tradisi Indonesia, dimainkan secara live oleh musisi-musisi kontemporer tradisi yang terbilang cukup muda. Kemasan ini disampaikan dalam platform komedi yang karikatural dan cukup banyak melibatkan interaksi dengan penonton.

Menurut Bram dan Ratih, pertunjukan non-verbal merupakan pertunjukan yang minim kata-kata dan sangat mengandalkan gerak tubuh, mimik dan ekspresi pemain dimana komunikasi dengan penonton juga akan terjalin melalui gerak. “Pertunjukan non-verbal bisa dikemas secara komedi maupun serius. Pertunjukan semacam ini cukup dikenal di Amerika dan Eropa, dan kini beberapa group dari Korea dan Jepang mencoba mengadaptasinya untuk menembus pasar internasional. Hal ini dilakukan karena pertunjukan non-verbal sangat mudah menembus jarak budaya yang ada, terutama bahasa. Problem ini selalu terjadi mengingat kendala bahasa merupakan barikade yang paling menyulitkan. Pertunjukan non-verbal asal Korea Cooking Nanta misalnya, telah mementaskan pertunjukan non verbalnya di Broadway New York selama 1 tahun dan kini telah berkeliling ke seluruh dunia,” jelas Bram dan Ratih.

Pendekar Kelana : Sebuah Kisah Tatkala Kebenaran Diperebutkan

Alkisah, di sebuah sudut kota metropolitan yang padat, hidup seorang pemuda bersahaja bernama Kelana (Rangga Aquarista Suhartono). Ia adalah murid sebuah perguruan silat ternama di perkampungan itu. Sebagai murid andalan Sang Guru (Suherman) di padepokan silat tempatnya berguru, tak mengherankan bila Kelana amat kondang di seantero kampung karena kepiawaian silatnya. Pribadinya yang tenang, jujur, baik hati dan suka menolong, membuatnya kerap menjadi buah bibir warga. Disegani para pemuda, digandrungi gadis-gadis. Meski demikian, hati Kelana hanya terpaut pada seorang dara. Maharani namanya (Rosmala Sari Dewi). Berwajah manis, dengan rambut panjangnya, ia tak lain adalah adik seperguruan silat Kelana. Berbeda dengan Kelana yang serba bersahaja, putri bungsu Pak Lurah ini amat manja dan tinggi hati.

Suatu ketika terjadilah sebuah peristiwa menguak siapa dibalik ulah preman yang meresahkan warga kampungnya selama ini. Ulah preman dan pungutan liar memang mulai merajalela meresahkan warga akhir-akhir ini. Tak dinyana, para preman ternyata anak buah Pak Lurah. Terjawablah teka-teki yang meresahkan warga selama ini. Rupanya Pak Lurah (Suci Ratmadi Widiyanto) dan Bu Lurah (Hilda Ridwan Mas) tak memiliki keberpihakan pada warganya. Dan preman-preman pemeras rakyat tak lain adalah suruhan Pak Lurah dan Bu Lurah yang bersikap bak mafia. Keberanian Kelana membela warga kampung yang tertindas cukup meresahkan Pak Lurah dan jajarannya. Hal ini akhirnya memupuk keberanian warga untuk melawan.

Pemain utama pergelaran Pendekar Kelana. Dari kiri ke kanan : Rosmala Sari Dewi (Maharani), Rangga Aquarista Suhartono (Kelana), Hilda Ridwan Mas (Bu Lurah)

Pemain utama pergelaran Pendekar Kelana. Dari kiri ke kanan : Rosmala Sari Dewi (Maharani), Rangga Aquarista Suhartono (Kelana), Hilda Ridwan Mas (Bu Lurah)

Tak mampu menghadapi kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang koruptor, Maharani terguncang. Dengan mata kepalanya sendiri, ia harus menyaksikan ayahnya diadili massa di tengah pasar. Sementara itu, Kelana yang bertekad untuk mempertahankan kebenaran membela kaum tertindas, hendak menyerahkan ayah kekasihnya yang koruptor itu ke pihak berwajib. Maharani kecewa.

Jiwa Maharani bergolak karena merasa ayahnya telah diperlakukan tidak adil. Ia marah dan kecewa pada warga kampung yang tak mau memberi ayahnya kesempatan. Ia menyalahkan Kelana yang tak mampu mencegah itu terjadi. Bagi Maharani, kebenaran sejati menyisakan ruang bagi keadilan, bahkan pengampunan. Baginya kebenaran sejati juga mengenal rasa welas asih, seperti yang pernah diamanahkan gurunya. Keyakinannya goyah. Antara malu, marah dan kecewa, sang dara meninggalkan Kelana dengan dada sesak penuh dendam. Ia berjanji pada dirinya untuk menuntut keadilan.

Kelana meradang penasaran. Mengapa Maharani meninggalkannya? Salahkah bila ia membela mereka yang tertindas? Baginya, semua belum berakhir dan harus dituntaskan. Ia bertekad terus mencari kemana perginya sang kekasih hati, sekaligus mencari makna kebenaran sesungguhnya.

Babakan Baru Seni Beladiri Pencak Silat di Pentas Teater Gerak Non-Verbal

Para pemain pada  pergelaran Pendekar Kelana adalah anggota dari Perguruan Pencak Silat Bela Diri Tangan Kosong (PPS Betako) Merpati Putih yang dipimpin oleh Mas Pung (Poerwanto HadipoernomoGuru Besar / Pewaris) dan Mas Hemi (Nehemia Budi Setyawan – Putra Alm. Mas Budi / Pewaris).

Sejak bulan April 2011, mereka menempa diri, berlatih keras meningkatkan skill beladiri serta kemampuan fisik dan daya tahan tubuh mereka. Tidak berhenti sampai disitu, mereka masuk ke ruang yang selama ini belum mereka masuki. Mereka dilatih olah tubuh, belajar akting dan berekspresi, belajar memahami dan mendalami peran, serta belajar memiliki kepekaan musikal dan juga koreografi. Kini mereka sudah merubah diri mereka dari seorang atlet silat menjadi seniman silat. Semua yang mereka lakukan malam ini harus mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi. Mereka melakukan ini semua untuk memberikan yang terbaik bagi perguruan Merpati Putih dan dunia persilatan Indonesia. (Bram dan Kumoratih Kushardjanto – Produser)

Pergelaran Pendekar Kelana dimulai dengan pertunjukan pembuka yang menuturkan keilmuan Merpati Putih yang diwariskan secara turun temurun, dengan menampilkan koreografi dan penggambaran tiga sosok utama sumber keilmuan Merpati Putih yaitu:  Gagak Handoko (Ilmu Silat), Gagak Samudro (Ilmu Pengobatan) dan Gagak Seto (Ilmu Sastra). Masing-masing dibawakan oleh Suci Ratmadi Widiyanto, Dwihardanto Joko dan Indra Yunandaru.

Dalam koreografi ini, siraman tata cahaya, iringan alat musik etnik yang mengalun pelan, serta narasi berbahasa Jawa, turut melarutkan penonton dalam nuansa etnik jawa yang cukup kental, dimana  salah satu warisan seni beladiri karya nenek moyang Indonesia, Merpati Putih, berawal.

Dilanjutkan dengan penampilan memukau Hilda Ridwan Mas, Ramadhan, dan Rowiyanto yang memperagakan jurus dan gerak silat Merpati Putih menggunakan Kudi (senjata khas Merpati Putih yang merupakan karya cipta Guru Besar Merpati Putih, Mas Pung).

Pertunjukan pembuka menampilkan koreografi ketiga sosok keilmuan Merpati Putih : Gagak Handoko (Ilmu Silat), Gagak Samudro (Ilmu Pengobatan), dan Gagak Seto (Ilmu Sastra)

Pertunjukan non-verbal Pendekar Kelana pun berlanjut dengan setting Kelana dan kawan-kawannya yang giat berlatih di sebuah perguruan silat ternama di kampung mereka. Banyak aksi dan ulah murid-murid perguruan ini yang kerap membuat penonton terpingkal. Terlebih saat mereka diuji secara fisik oleh sang Guru. Diperguruan silat inilah Kelana yang merupakan murid andalan sang Guru berkenalan dan terpikat dengan adik seperguruannya yang berparas manis dan berambut panjang,  Maharani. Jalinan kasih mereka disajikan secara manis dalam komposisi gerak non-verbal, koreografi dan jurus-jurus silat Merpati Putih.

Selanjutnya panggung berubah dengan setting suasana pasar. Terlihat kesibukan para pedagang menjajakan barang dagangannya. Tidak berapa lama, datanglah preman-preman yang memajaki para pedagang  dan mengganggu warga pengunjung pasar. Ulah preman-preman tersebut semakin merajalela dan meresahkan warga. Beruntunglah Kelana dan kawan-kawannya datang membantu. Berbekal ilmu silat yang dipelajari selama ini, Kelana dan kawan-kawan berhasil menolong para pedagang serta mengusir para preman. Tidak disangka ternyata preman-preman tersebut adalah suruhan dari Bapak Lurah & Ibu Lurah yang tidak lain adalah orangtua Maharani, kekasih Kelana.

Secara keseluruhan, pergelaran Pendekar Kelana berdurasi sekitar 1 jam lebih.  Penampilan tokoh utama Kelana dan Maharani yang diperankan oleh Rangga Aquarista Suhartono (atlit pencak silat nasional) dan Rosmala Sari Dewi (seniman tari) pada pergelaran ini sangat memukau, dengan koreografi, jurus silat, gerak tubuh, mimik dan ekspresi sesuai dengan peran masing-masing. Mereka melakukan koreografi dan komposisi gerak yang indah, serasi, dinamis, namun juga powerful. Terkadang keduanya menampilkan  gerakan akrobatik dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Jalinan kasih dan konflik  antara Kelana dan Maharani, diperankan secara pas oleh Rangga dan Rosmala.

Selain itu penampilan Hilda Ridwan Mas, penyanyi rock era ’90-an yang sejak dulu sudah menjadi pelatih handal Merpati Putih, cukup membuat kagum penonton dengan kepiawaiannya melakukan gerak dan jurus silat sambil memainkan Kudi senjata khas Merpati Putih, baik dalam bentuk penampilan solo maupun bertarung dengan lawan mainnya.

Namun yang luar biasa pada pergelaran tersebut adalah penampilan seluruh pemain yang merupakan pesilat Merpati Putih yang begitu prima di atas panggung dan menjelma menjadi seniman silat sejati.

Para Pemain Pendekar Kelana, Berpose Usai Pergelaran

Para Pemain Pendekar Kelana Yang Merupakan Anggota PPS Betako Merpati Putih, Berpose Bareng Usai Pergelaran

Seluruh atraksi kekuatan fisik serta energi getaran Merpati Putih yang dipamerkan pada Pendekar Kelana sepenuhnya mengikuti alur cerita yang berjalan. Pada beberapa kesempatan juga melibatkan interaksi penonton secara langsung. Melewati berbagai rintangan & membaca dengan mata tertutup, mematahkan batang besi dragon, dan berbagai atraksi fisik maupun energi getaran Merpati Putih lainnya, dikemas dengan sentuhan kreatif.

Desain kostum para pemain pun cukup menunjang mereka berekspresi sesuai peran masing-masing, sekaligus memberi ruang yang cukup leluasa untuk melakukan berbagai gerak dan jurus silat maupun akrobatik. Tentu saja tanpa melupakan unsur tradisi dan etnik pada kostum yang digunakan.

Tim kreatif / produksi yang dimotori oleh Produser:  Bram & Ratih Kushardjanto (GELAR), Co-Produser: Ira T. Soerjosoebandoro & David Avianto, Sutradara dan Koreografer: Atien Kisam, Penasehat dan Konsultan Gerak Silat: Poerwoto Hadipoernomo (Mas Pung)  & Nehemia Budi Setyawan (Mas Hemi), Penata Musik: Joko ‘Porong’  Winarko, Konsultan Artistik: Wiwiek HW, Penata Gerak Silat: Indra Yunandaru, Dyah Ratna Ayu, dan lainnya, berhasil mengemas pergelaran Pendekar Kelana menjadi satu sajian seni pertunjukan yang patut diacungi jempol dan mendapatkan apresiasi tinggi, sekaligus mempelopori babakan baru seni beladiri pencak silat di pentas teater gerak non-verbal baik di tanah air maupun di mancanegara.

Pimpinan PPS Betako Merpati Putih Mas Pung dan Mas Hemi saat ditemui NihDia.com usai pergelaran berharap bahwa apa yang dipelopori dan diupayakan GELAR untuk mengangkat seni bela diri Indonesia ke atas panggung pertunjukan, dapat dijadikan momentum untuk melestarikan dan menggali lebih dalam potensi seni beladiri tradisi indonesia, ditengah terpaan badai kebudayaan dan seni beladiri asing yang datang dari berbagai penjuru dunia.

“Pencak silat bukan cuma sekedar olahraga prestasi namun juga sebuah bentuk seni yang lahir dari kekayaan kebudayaan Indonesia. Merpati Putih tidak semata-mata didirikan untuk menjadi sebuah organisasi bela diri biasa. Merpati Putih adalah sebuah sarana yang memiliki guna dan daya bagi pelestarian seni dan budaya Indonesia, ” ungkap Mas Pung.

“Sebuah kerja yang lebih besar akan menanti kami. Dengan didukung Gelar, Merpati Putih akan melanjutkan kerjasama dalam bentuk penelitian, pilot project, hingga program pelatihan Merpati Putih, khususnya yang berkaitan dengan kemanusiaan seperti pelatihan tuna netra, penyembuhan diabetes, program kebugaran dan sebagainya, ” tambah Mas Hemi.

Menurut Bram dan Ratih, usaha yang telah dilakukan semua pihak ini tidak akan berhenti sampai di sini. Seusai pentas ini, mereka tetap berlatih untuk mempersiapkan program pentas keliling ke mancanegara. “Kita akan perlihatkan salah satu wajah kebudayaan kita ke dunia. Semoga dari hasil tour keliling nanti, kita mulai meniupkan angin yang nantinya secara perlahan akan membesar menjadi badai ke negara-negara lain,” sambung Bram dan Ratih.

 


Galeri Foto Pergelaran Pendekar Kelana

Penggambaran keilmuan Merpati Putih melalui koreografi sosok Gagak Handoko (Ilmu Silat), Gagak Samudro (Ilmu Pengobatan), dan Gagak Seto (Ilmu Sastra)Pergelaran Teater Silat Pendekar Kelana yang dipersembahkan oleh PPS Betako Merparti Putih bekerja sama dengan Gelar, Gdeung Kesenian Jakarta 3-7 Juli 2011Pendekar Kelana - Murid-Murid Perguruan Silat Giat BerlatihPendekar Kelana - Maharani dan Sang GuruMas Pung (Memakai Topi) Guru Besar / Pewaris PPS Betako Merpati Putih Bersama RekanMas Hemi (Nehemia Budi Setyawan) - Pewaris PPS Betako Merpati PutihPimpinan GELAR, dari kanan ke kiri : Bram Kushardjanto, Kumoratih Kushardjanto, Tri Indraswari.Warung Merpati Putih (Warung MP), Menyediakan Kaos Pendekar Kelana & Kudi (Senjata Khas Merpati Putih) BersertifikatRombongan Alumni dan Mahasiswa BINUS, Berpose sesaat sebelum pergelaran dimulaiPara Undangan dan Pencinta Seni Pertunjukan pada Pergelaran Pendekar Kelana di Gedung Kesenian JakartaPemain utama pergelaran Pendekar Kelana. Dari kiri ke kanan : Rosmala Sari Dewi (Maharani), Rangga Aquarista Suhartono (Kelana), Hilda Ridwan Mas (Bu Lurah)Pendekar Kelana - Para Pemain berpose bareng usai pergelaranPara Pemain & Tim Kreatif Pendekar KelanaSuasana Panggung Usai Pergelaran Pendekar KelanaKreatif/Produksi Pendekar Kelana, Berkumpul Bersama Usai Pergelaran

Sumber : Pergelaran / Panduan / Siaran Pers Teater Silat Pendekar Kelana

Baca tulisan lainnya :

Didi Sutadi

Founder NihDia.com. Karir di bidang IT diawali sebagai programmer di sebuah perusahaan konsultan IT yang menggarap beberapa proyek bank pemerintah. Kemudian berlanjut sebagai senior IT di beberapa perusahaan manufacturing di Jakarta. Hobi dan ketertarikannya di bidang komputer dan programming, membuatnya tetap berkarya dengan mengembangkan beberapa permainan game komputer. Pada tahun 2002 & 2003 terpilih mewakili Indonesia pada ajang Asia Pacific ICT Awards untuk kategori "Entertainment Application". Sejak tahun 2007 merintis usaha di bidang IT & Multimedia, Web Development dan Graphic Communication.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

One thought on “Pendekar Kelana, Babakan Baru Seni Beladiri Pencak Silat Di Pentas Teater Non-Verbal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*