Indonesia Raih Penghargaan Khusus IYCE Interactive Awards 2010

Para Finalis IYCE Interactive 2010 di London Inggris. Tampak Muhamad Lukman (depan, paling kiri) yang berhasil meraih penghargaan khusus (Commendation) pada ajang IYCE Interactive 2010 ini. Foto Copyright By British Council

Indonesia berhasil meraih penghargaan khusus (Commendation) pada ajang British Council International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Awards yang diselenggarakan di London Inggris, 20 Oktober 2010 lalu. Penghargaan khusus tersebut diraih pada kategori interactive melalui Muhammad Lukman, pendiri Pixel People Project Bandung. Sebelumnya Muhamad Lukman adalah jawara IYCE Interactive 2010 tingkat nasional yang diselenggarakan oleh British Council Indonesia. 

Muhamad Lukman (lahir pada 1978 di Jakarta), entrepreneur kreatif muda asal Bandung, adalah pendiri Pixel People Project, sebuah perusahaan riset desain, dan penemu Batik fraktal yang memadukan matematika, seni tradisonal batik, dan teknologi. jBatik adalah peranti lunak ciptaannya yang menghasilkan pola batik dari rumus matematika. Tak ayal, dewan juri yang terdiri dari tokoh-tokoh industri interactive Inggris memuji terobosan Lukman dalam memperkenalkan batik ke masyarakat internasional. 

“Kerjasamanya dengan pembatik tradisional dalam memadukan seni batik dengan teknologi terbaru dan matematika memperlihatkan kepemimpinan nyata Lukman. Gagasannya benar-benar orisinil,” kata dewan juri yang antara lain diawaki Angel Gambino, entrepreneur sekaligus investor yang pernah membesarkan MTV dan situs media sosial Bebo. 

Saat terpilih sebagai juara dan berhak mewakili Indonesia di ajang IYCE 2010 tingkat internasional, Muhamad Lukman yang sudah tiga tahun menjalankan usahanya dinilai Tim Juri IYCE Nasional sebagai peserta yang paling lengkap dalam menyeimbangkan sisi kewirausahaan dan sosial. Ia juga dinilai mempunyai passion yang besar di bidangnya. Salah satu yang mengesankan adalah upayanya memperkenalkan dunia dijital kepada para perajin batik yang umumnya ibu rumah tangga. Pola batik lazimnya diturunkan dari orang tua ke anaknya. Hanya saja, cara ini membuat pola lazimnya kurang berkembang. Langkah Lukman adalah terobosan karena mengembangkan sekaligus melestarikan pola-pola batik. 

Tim Juri IYCE Interactive Awards 2010 di London Inggris yang terdiri dari Angel Bambino (Direktur dan Investor Bebo & MTV), Paul Croft (Pendiri / Direktur Kreatif Mediatonic dan Pemenang Young Interactive Entrepreneur Award 2009), Deborah Dignam (Penasehat Media Digital British Council), juga memberikan penghargaan khusus (Commendation) kepada finalis dari Mexico Ulises Valencia, Pendiri dan Direktur Kreatif Grupo W Mexico. 

Sedangkan Juara (Winner) untuk IYCE Interactive Awards 2010 diboyong oleh Anup Tapadia dari India, Pendiri TouchMagix sebuah perusahaan teknologi digital generasi baru yang memanfaatkan media interaktif dengan display ukuran besar. TouchMagix saat ini sudah mengekspor produknya ke 20 negara, untuk memasok kebutuhan pelanggan mereka seperti Nike, Intel, Reebok dan Nokia. Sebelumnya perusahaan ini meraih Best Upcoming Company in India Award pada tahun 2009. Untuk informasi lebih lanjut mengenai TouchMagix dapat dilihat melalui situs www.touchmagix.com

British Council IYCE Interactive Award bertujuan untuk memberikan penghargaan dan mendorong keberadaan pengusaha muda di bidang hiburan dan media interaktif serta berupaya menampilkan inovasi bisnis secara internasional. Pemenangnya dipilih berdasarkan kemampuan kewirausahaan terbaik, kepemimpinan, kepekaan pasar, orisinalitas ide / gagasan, dan wawasan internasional. 

Para finalis datang ke Inggris dan berkesempatan mengikuti tur sepuluh hari untuk melihat perkembangan sektor interaktif di London, Dundee dan Middlesbrough, serta bertemu dengan para pemimpin sektor interaktif. Tur terdiri dari kunjungan, rapat, seminar, termasuk workshop dengan Ian Livingstone (Bapak industri game dan konten Inggris) dari Eidos interactive di mana para finalis dapat melihat dari dekat serta mempelajari perkembangan bisnis interaktif di Inggris. 

Untuk IYCE 2010 kategori Screen (Film), Indonesia juga mengirimkan wakilnya untuk berkompetisi di ajang IYCE Screen Awards 2010 melalui Perdana Kartawiyudha (lahir di Mojokerto pada 1985). Perdana Kartawiyudha adalah pendiri Serunya Scripwriting ( www.skenario.org ), lembaga pertama yang mengkhususkan diri sebagai pusat pelatihan dan pengembangan penulisan naskah. Sejak berdiri pada 2007, Serunya sudah mencetak penulis-penulis baru untuk film panjang, serial televisi, dokumenter, dan sitkom. Pengajar di tempat ini adalah para penulis skenario berpengalaman. Perdana juga pernah mendatangkan pengajar dari Prancis. Dengan cara ini, peserta pelatihan di Serunya bisa belajar banyak gaya penulisan. 

Untuk Juara (Winner) IYCE Screen Awards 2010 di London Ingris dimenangkan oleh Nayla Al Khaja, produser film dan sutradara wanita pertama Uni Emirat Arab (UEA) yang mendirikan dan menjalankan perusahaan D-Seven Motion Pictures dengan produksi film-film komersial untuk kawasan Timur Tengah. Sebelumnya Nayla juga pernah meraih Best Emirati Filmmaker di Dubai International Film Festival 2007 dan Emirates Woman of the Year pada tahun 2005. Untuk informasi lebih lanjut mengenai D-SEVEN dapat dilihat melalui situs www.d-seven.com

Selain itu, tim Juri IYCE Screen Awards 2010 yang terdiri dari David Sproxton (Pendiri dan Pemimpin Eksekutif Aardman Animations – Chair), Andy Whittaker (Pendiri dan Pemimpin Dogwoof Film Distribution), Adam Kulick(Goldcrest) dan Rob Lynes (Wakil Direktur Operasi British Council) juga memberikan penghargaan khusus(Commendation) kepada finalis asal Mexico Elena Fortes Acosta, Direktur Ambulante Documentary Film Festival Mexico. 

Penghargaan khusus IYCE Screen Awards yang diraih Muhamad Lukman pada tahun 2010 ini menambah daftar prestasi yang berhasil diraih Indonesia di ajang kompetisi wirausahawan muda kreatif dunia ini. Saat ini Indonesia merupakan satu-satunya negara yang berhasil memperoleh 6 penghargaan IYCE yang diraih secara berturut-turut oleh : Yoris Sebastian (Musik, 2006), Wahyu Aditya (Screen, 2007), Sakti Parantean (Screen, 2008), Oscar Lawalata (Fashion, 2009), Johansen Samsudin (Design 2009) dan Muhamad Lukman (Screen, 2010). 

Berkat prestasi Lukman, sejak ikut serta pada 2006 Indonesia sudah berhasil menorehkan tiga kali juara pertama (Wahyu Aditya untuk Screen 2007, Sakti Parantean untuk Screen 2008, dan Oscar Lawalata untuk Fashion 2009) dan tiga kali juara kedua (Yoris Sebastian untuk Music 2006, Johansen Samsoedin untuk Design 2009, dan Lukman untuk Interactive 2010). Raihan ini menjadikan Indonesia sebagai pemenang internasional terbanyak di ajang IYCE Award yang digelar British Council bagi negara-negara berkembang sejak 2004. 

Kemenangan Lukman pada saat yang bersamaan menegaskan keberhasilan IYCE Award dalam memajukan para wirausahawan kreatif muda dunia yang mampu memadukan seni, teknologi, dan kepedulian soial, dengan strategi bisnis yang jitu. Sejak 2004, ajang ini berhasil menggandeng 350 wirausahawan kreatif berusia 25-35 tahun dari 52 negara berkembang untuk mempromosikan bisnis kreatifnya di London, berjejaring dengan industri kreatif Inggris, serta merebut gelar international champion di sembilan kategori (communication, design, fashion, interactive, music, performing art, publishing, screen, dan visual art). 

Tak pelak, keberhasilan beruntun Indonesia di IYCE selama 5 tahun terakhir mencuri perhatian pelaku industri kreatif Inggris, khususnya di sektor fesyen dan interaktif. September lalu, legenda games Inggris dan produser permainan Lara Croft Tomb Raider, Ian Livingstone, melakukan rangkaian seminar dan kunjungan untuk mempelajari industri games dan animasi lokal di Jakarta dan Yogyakarta. 

Awal November lalu, desainer tekstil kenamaan Laura Miles tampil di Jakarta Fashion Week bersama perancang adibusana sekaligus juara IYCE Fashion Award 2009, Oscar Lawalata. Laura, yang kainnya pernah dikenakan oleh Ibu Negara Amerika Serikat Michelle Obama dan dipakai oleh perancang macam Calvin Klein, Donna Karan, Chanel, dan Vera Wang, menampilkan hasil kolaborasinya dengan Oscar menggunakan bahan kain tenun tradisonal buatan tangan (hand made) dari Indonesia.

Tahun depan, perancang topi Inggris Justin Smith yang baru saja dinobatkan sebagai juara UKCE Fashion Award (IYCE Award versi Inggris) akan memulai proyek kerjasama dengan disainer dan pengrajin kain tradisional Indonesia. Justin sempat berkunjung ke Jakarta, Bandung dan Solo, Maret lalu, bersama 4 wiraushawan kreatif Inggris lainnya untuk keperluan ini. 

Sementara itu, di London batik fraktal Lukman serius dilirik oleh beberapa perusahaan fesyen Inggris seperti Choolips (www.choolips.com) dan Lost Values (www.lostvalues.com), keduanya finalis UKCE Fashion Award 2009. Choolips merancang busana bekerjasama dengan pembatik tradisional Ghana sehingga meraih penghargaan Innovative Business of the Year 2008 dari Bank Barclays. Sementara itu Lost Values memadukan teknologi ramah lingkungan seperti panel solar ke dalam aksesoris fesyennya. Di siang hari perhiasan, sepatu, dan kipas rancangan mereka berfungsi sebagai fesyen. Di malam hari, barang-barang itu bertransformasi menjadi lampu dan sumber energi untuk rumah. 

Potensi kerjasama Indonesia-Inggris ini tentunya akan semakin mendorong perkembangan industri kreatif di Indonesia. Pada 2010, misalnya, industri feysen diharapkan menyumbang £8,2 miliar untuk perekonomian Indonesia, sementara industri interaktif pada 2007 sudah memberikan Rp 4,3 triliun menurut pemetaan Kementerian Perdagangan RI. Di Inggris sendiri, industri kreatif merupakan sektor penyumbang ekonomi terbesar disamping perbankan sejak 2001. 

Sumber :
– British Council International Young Screen Entrepreneur award 2010
– British Council International Young Interactive Entrepreneur award 2010
– Media Rilis British Council Indonesia

Didi Sutadi

Founder NihDia.com. Karir di bidang IT diawali sebagai programmer di sebuah perusahaan konsultan IT yang menggarap beberapa proyek bank pemerintah. Kemudian berlanjut sebagai senior IT di beberapa perusahaan manufacturing di Jakarta. Hobi dan ketertarikannya di bidang komputer dan programming, membuatnya tetap berkarya dengan mengembangkan beberapa permainan game komputer. Pada tahun 2002 & 2003 terpilih mewakili Indonesia pada ajang Asia Pacific ICT Awards untuk kategori “Entertainment Application”. Sejak tahun 2007 merintis usaha di bidang IT & Multimedia, Web Development dan Graphic Communication.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*