Genta Nada Karya Abdul Madjid Gangga di PPKI 2010

Ada catatan menarik dari Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) yang berlangsung di Jakarta Convention Center, 23-27 Juni 2010 yang lalu. Ketika memasuki Pre Function Hall A yang menjadi tempat digelarnya 14 icon produk unggulan PPKI 2010, terdengar alunan nada dari alat musik tradisional gamelan Jawa yang memberikan nuansa etnik cukup kental di sepanjang lobi JCC ini.

Setelah melihat beberapa icon produk unggulan PPKI 2010, sampailah pada sumber alunan nada gamelan Jawa tadi yang ternyata berasal dari produk kerajinan genta atau lonceng angin (wind chimes) berukuran besar yang diberi nama Genta Nada. Produk wind chimes ini terbuat dari rangkaian pipa logam berbagai ukuran, yang diproses dan diselaraskan sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan denting nada-nada etnik tradisional dengan pitch frekuensi 440 Hertz.

Adalah Abdul Madjid Ganga, seniman sekaligus pemilik Sentra Genta Nada yang menemukan dan memperkenalkan Genta Nada untuk pertama kali. Keahlian dan keterampilannya dalam mengubah pipa logam biasa menjadi Genta Nada yang dapat menghasilkan berbagai nada etnik tradisional seperti gending / gamelan Jawa, Sunda, Bali, Melayu, Jepang, India, China, dan lain-lain patut diajungi jempol. Karyanya ini berbeda dengan kebanyakan produk genta / lonceng angin yang biasanya terbuat dari bahan alami seperti bambu, kerang, logam ringan, dan lainnya.

“Suara dan bunyi yang dihasilkan genta / lonceng angin biasa cenderung berisik”, jelas Abdul Madjid. Padahal salah satu kegunaan utama lonceng angin adalah untuk terapi musik yang menyatu dengan alam (angin) yang dapat menghadirkan nuansa tenang dan damai. Ini membuat Abdul Madjid Ganga tertantang untuk menghasilkan produk kreatif Genta Nada dengan lebih memperhatikan detail pengerjaan pada denting nada yang dihasilkan, tanpa melupakan unsur estetika sebagai produk hiasan rumah / taman.

Pengunjung sedang mendengarkan penjelasan dari Sentra Genta Nada

Melalui percobaan dan penelitian yang cukup lama dan mendalam terhadap karakteristik serta keunggulan berbagai bahan pipa logam, baik panjang, diameter dan ketebalannya untuk menghasilkan nada-nada yang diinginkan, akhirnya pada tahun 2002 Abdul Madjid berhasil mewujudkan keinginannya dengan karya Genta Nada yang pertama. Selanjutnya Genta Nada mulai diproduksi serta dipasarkan walaupun saat itu masih secara terbatas. Penyempurnaan terhadap Genta Nada pun terus dilakukannya dari waktu ke waktu.

Untuk bahan pipa logam, Genta Nada menggunakan alumunium yang bobotnya lebih ringan, mudah dalam proses pengerjaannya serta kualitas denting nadanya paling baik. Selain itu pipa alumunium lebih awet dan mudah dalam perawatan serta mudah dicat sesuai selera pemesan.

Pada perkembangannya selanjutnya, Genta Nada semakin banyak diminati karena keunikannya serta kualitas nada dan detail pengerjaan yang tinggi. Selain itu Abdul Madjid pun menyediakan pilihan nada etnik tradisional yang semakin beragam. Pesanan terhadap Genta Nada pun semakin banyak mengalir, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

“Untuk ajang Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2010, Genta Nada terpilih sebagai produk unggulan dan masuk dalam 10 Besar. Saat ini pun kami sedang membuat pesanan Genta Nada untuk Istana Negara yang harus diselesaikan pada pertengahan November 2010 ini”, ungkap Pria yang saat ini mempekerjakan banyak pengrajin di bengkel Sentra Genta Nada miliknya yang berlokasi di Sawangan Depok.

Ketika ditanya mengenai harga produknya, Abdul Madjid memberikan kisaran harga antara 2 Juta Rupiah (ukuran sedang dengan pipa 16 batang) hingga 10 Juta Rupiah (ukuran besar dengan pipa 48 batang). Selain itu tersedia pula ukuran kecil dengan pipa 9 batang dengan harga sekitar 700 Ribu Rupiah. Seluruh produk Genta Nada sudah diproduksi dengan standar pitch frekuensi 440 Hertz, sehingga produk ini tidak memerlukan lagi penyelarasan / penyetelan ulang nada.


Fast Tube by Casper

Didi Sutadi

Founder NihDia.com. Karir di bidang IT diawali sebagai programmer di sebuah perusahaan konsultan IT yang menggarap beberapa proyek bank pemerintah. Kemudian berlanjut sebagai senior IT di beberapa perusahaan manufacturing di Jakarta. Hobi dan ketertarikannya di bidang komputer dan programming, membuatnya tetap berkarya dengan mengembangkan beberapa permainan game komputer. Pada tahun 2002 & 2003 terpilih mewakili Indonesia pada ajang Asia Pacific ICT Awards untuk kategori "Entertainment Application". Sejak tahun 2007 merintis usaha di bidang IT & Multimedia, Web Development dan Graphic Communication.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn